Mempelajari Siroh, Tujuanya, Serta Sumber- Sumbernya,

Tujuan Mempelajari Siroh

Sudah menjadi kewajiban seorang mukmin untuk mengenal dan mempelajari Din ini. Mengenal Alloh, mengenal Nabi kita, dan mengenal agama ini berdasarkan dalil ( Al Utsulu Atsalatsah ). Dengan mengenal Nabi kita maka kita akan lebih mengenal agama ini, karena Alloh telah menjelaskan dalam firmanNya ;

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة

( Sungguh didalam diri Rosululloh itu terdapat suri tauladan yang baik bagi kamu sekalian )

Dan orang yang mentaati Nabi berarti dia telah mentaati Alloh, dan orang yang mendurhakainya berarti dia telah durhaka pada Alloh sebagaimana sabda beliau dalam hadits yang bersumber dari Abu Huroiroh dari nabi sollollohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda ;
من أطاعني فقد أطاع الله و من عصاني فقد عصى الله و من يطع الأمير فقد أطاعني و من يعص الأمير فقد عصاني

( Barang siapa yang taat padaku maka berarti dia telah mentaati Alloh dan barang siapa yang durhaka kepadaku berarti dia telah durhaka kepada Alloh dan barang siapa yang mentaati pemimpin berarti dia taat kepadaku dan barang siapa yang durhaka kepada pemimpin berarti dia durhaka kepadaku ) diriwayatkan Imam Muslim dalam Shohihnya.


Maka sebagaimana yang disebutkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab beliau wajib bagi kita untuk mengenal nabi kita, mempelajari Siroh beliau, perjalanan dakwah beliau, dan semua hal yang berkaitan dengan beliau karena disitu kita akan mendapatkan menfaat yang banyak dari seorang yang paling sempurna imannya.

Diantara tujuan mempelajari Siroh beliau adalah ;
1. Mengetahui kesempurnaan Nabi sollollohu ‘alaihi wa sallam
2. Didalam Siroh beliau terdapat contoh yang agung manusia yang sempurna dari semua sisi
3. Mengenal perkembangan dakwah Islam juga mengetahui hambatan dan kesulitan yang menghadangnya
4. Mengetahui sebab turunnya ayat dan perkataan-perkataan yang ditujukan untuk Nabi dan sahabat beliau
5. Memahami ilmu Nasikh dan mansukh
6. Mengetahui kekhususan-kekhususan Nabi sollollohu ‘alaihi wa sallam
Sumber-Sumber Siroh Nabawiyah
Ada beberapa sumber Siroh Nabawiyah, diantaranya adalah ;
1. Al qur’an

ِِSecara bahasa berasal dari kata قرأ maknanya ( تلا ) membaca. Sedangkan secara istilah adalah perkataan Alloh yang diturunkan kepada Rosul dan penutup para NabiNya sollollohu ‘alaihi wa sallam yang di awali dengan surat al Fatihah dan di akhiri dengan surat an Naas (Ushuul Fii at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin ). Didalam Al qur’an banyak memuat perkara-perkara yang berhubungan dengan Siroh Nabawiyah, seperti ;
a. Lingkungan dimana Nabi dilahirkan, di sini dibicarakan semua sisi kehidupan Nabi dan penduduk jazirah Arab, khususnya Makkah dimana didalamnya Nabi dilahirkan, seperti di surat ad Dhuha ayat 6 , surat at Taubah 128, al Imron 159, al Quroisy 4, al Ahzab 40, dll.

b. Permulaan dakwah dan permusuhan yang dilancarkan kaum kafir quraisy juga cara-cara yang mereka gunakan untuk tipu daya terhadap Nabi sollollohu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau, seperti surat Ali Imron ayat 118 ( Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudhorotan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu ingin memahaminya ).
c. Al Qur’an menceritakan tentang menetapnya kaum muslimin di madinah, pendirian Daulah Islamiyah, juga kedudukan orang-orang munafiq dan orang-orang yahudi. Sebagaimana Surat Ali Imron 46 ( Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa`ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis ).

d. Al Qur’an membicarakan masalah Jihad, ketentaraan, serta pertempuran-pertempuran yang dilakukan kaum muslimin, seperti Surat al Anfal 72 ( Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Alloh dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung melindungi ). Tentang perang badar disurat al Anfal 5 dan 43.
2. Al Hadits


Hadits merupakan sumber penting untuk Siroh Nabi, dikarenakan banyak terkumpul riwayat-riwayat dari Nabi sollollohu ‘alaihi wa sallam yang didalamnya terdapat kejadian-kejadian mulai dari peperangan beliau, kehidupan pribadi beliau, serta perjalanan beliau bersama sahabat beliau. Bahkan kita bisa mengetahui sisi kehidupan bermasyarakat, politik, dan ekonomi pada masa itu ( yang dinukil dengan penukilan yang shohih ).

3. Kutub ad Dala il

Yang dimaksud disini adalah kitab-kitab yang membahas tentang mu’jizat dan dalil (petunjuk) yang menunjukkan kebenaran Nabi sollollohu ‘alaihi wa sallam. Diantara orang yang mengawali menulis tentang hal ini adalah Al Faryabi ( meninggal tahun 212 H ), dalam kitab beliau Dalailun Nubuwah. Dan diantara kitab-kitab yang masyhur adalah karya dari Abu Na’im Al Asfahani, serta karya dari Iman Baihaqi ( Dalailun Nubuwah ).
4. Kutub asy Syama il

Adalah kitab yang menjelaskan akhlak Nabi, sifat beliau secara khuluqiyah ( akhlak ) dan khilqiyah ( fisik ). Diantara yang mengawali menulis tentang hal ini adalah Wahb bin Wahb al Asadi ( meninggal tahun 200 H ) dalam karya beliau Sifatun Nabi sollollohu ‘alaihi wa sallam. Yang masyhur dari kitab-kitab ini adalah karya dari Imam Turmudzi ( Asy Syamail al Muhammadiyah ), juga karya dari Abu Syaikh ( Akhlaqu an Nabi sollollohu ‘alaihi wa sallam wa Adabuhu ).
Para pendahulu kita ( salaf ) amat memperhatikan masalah ini ( Siroh ), dan di kalangan para sahabat yang masyhur akan perhatiannya terhadap hal ini adalah Ibnu ‘Abbas, Abdulloh bin Amr bin ‘Ash dan yang lainnya. Inilah yang banyak mempengaruhi riwayat-riwayat dalam Siroh.
Telah ditulis banyak pelajaran-pelajaran ( Siroh ) dari pengarang-pengarang pendahulu, dan mereka membagi menjadi beberapa tingkatan ;
Tingkatan pertama

Yang terkenal dari tingkatan ini diantaranya adalah Aban bin Utsman ( meninggal tahun 86 H ), Urwah bin Zubair ( meninggal tahun 93 H ), Abdulloh bin Ka’ab ( meningggal tahun 97 H ), dll.
Kitab-kitab mereka tidaklah sampai pada kita, akan tetapi riwayat-riwayatnya tersebar dan menjadi rujukan.
Tingkatan Ke dua

Yang masyhur dari tingkatan diantaranya adalah Muhammad bin Syihab az Zuhriy ( meninggal tahun 124 H ) beliau adalah seorang muhaddits besar pada masanya, juga Abdulloh bin Abi Bakr bin Hazm ( meninggal tahun 135 H ) beliau termasuk muhaddits yang tsiqoh dari kalangan tabi’in. Demikian juga pada tingkatan ini kitab-kitab mereka tidaklah sampai ke tangan kita, akan tetapi Doktor Suhail mengumpulkan riwayat-riwayat dari az Zuhriy, dan beliau menyebarkanya dalam kitab Al Maghozi an Nabawiyah.
Tingkatan ke Tiga

Yang masyhur dari tingkatan ini diantaranya adalah Musa bin ‘Uqbah ( meninggal tahun 141 H ), beliau termasuk muhaddits tsiqoh dan juga murid dari az Zuhriy bahkan Imam Malik pun memuji kitab beliau dengan mengatakan ; ” Innahu assohu al maghozi ” ( Sesungguhnya kitab milik az Zuhriy termasuk kitab yang paling shohih dalam masalah maghozi (kitab yang menceritakan peperangan-peperangan Nabi sollollohu ‘alaihi wa sallam)) “. Demikian juga dengan Sulaiman bin Thorkhon at Taimi ( meninggal tahun 143 H ), muhaddits tsiqoh dari kalangan tabi’in.
Maka dengan mempelajari Siroh Nabi maka kita dapat lebih mengenal Nabi kita, sehingga kita dapat mereguk dan mengambil contoh dari pribadi yang mulia sollollohu ‘alaihi wa sallam.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *