Salah Kaprah Memahami Sunnah

Masih banyak diantara kita kaum muslimin salah didalam memahami Sunnah dan arti kata Sunnah yang sebenarnya, atau bahkan tidak mengerti sama sekali arti kata Sunnah itu sendiri, sehingga akibat kesalahan ini mereka menganggap perkara yang sebenarnya bukan termasuk perkara Sunnah dianggap sebagai sebuah perkara Sunnah ( Salah satu contohnya Perayaan maulud Nabi ), dan sebaliknya. Lebih parahnya lagi mereka menganggap perkara yang sebenarnya sebuah perkara yang Wajib dianggap sebagai sebuah perkara Sunnah. Ini dikarenakan kejahilan dari mereka sebagian kaum muslimin serta malasnya mereka didalam menuntut Ilmu Din ini karena mereka sibuk didalam perkara dunia yang melalaikan mereka.

Pengertian Sunnah Secara Bahasa

Secara bahasa Sunnah yang dimaksud Sunnah ada beberapa makna :
1. Toriqoh wa Siroh ( Jalan ) yang baik ataupun yang buruk. Yang menguatkan makna ini adalah sabda Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam ;
من سن فى الإسلام سنة حسنة فعمل بها بعده كتب له مثل أجر من عمل بها ولا ينقص من أجورهم شيء, ومن سن فى الإسلام سنة سيئة فعمل بها بعده كتب عليه وزر من عمل بها ينقص من أوزارهم شيئ.

( Barang siapa yang mempelopori jalan yang baik dalam Islam dan jalan tersebut di diamalkan/diikuti maka ditulis baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengamalkanya tanpa mengurangi pahala dari orang yang mengamalkannya sedikitpun, dan barang siapa yang mempelopori jalan yang buruk dalam Islam dan jalan tersebut diamalkan/diikuti maka ditulis baginya dosa sebagaimana dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa dari orang yang mengamalkanya sedikitpun ).

2. Toriqoh Mahmudah Mustaqimah ( jalan yang terpuji dan lurus ). Yang menguatkan makna ini adalah sabda Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam ;

فمن رغب عن سنتي فليس مني…..
( Barang siapa yang membenci Sunnahku maka dia bukanlah termasuk golonganku ). Yang dimaksud Sunnah dalam penggalan hadits yang dikeluarkan Imam Bukhori dan Imam Muslim diatas adalah jalannya Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam yaitu jalan yang terpuji dan lurus, dan mencakup Islam secara keseluruhan dari awal hingga akhirnya yaitu berupa aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlak, juga adab.
3. ‘Adah Mustamiroh wa Toriqoh Muttabi’ah ( kebiasaan yang terus diulang dan jalan yang diikuti ), sebagaimana dalam dua firman Alloh Ta’ala berikut ini ;
سنة الله في الذين خلوا من قبل و لن تجد لسة الله تبديلا
( Sebagai sunnah Alloh yang berlaku atas orang-orang yang terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Alloh ) al Ahzab 62,
فهل ينظرون إلا سنت الأولين فلن تجد لسنت الله تبديلا و لن تجد لسنت الله تحويلا

( Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melaikan (berlakunya) sunnah (Alloh yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat pengganti bagi sunnah Alloh, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan pada sunnah Alloh itu ). Faathir 43.

“Hanya saja ahli bahasa sepakat apabila kata Sunnah disendirikan atau tidak dikaitkan dengan suatu apapun maka maknanya menjadi Jalan atau, Jalan yang terpuji saja, dan tidak digunakan selain makna tersebut kecuali dibatasi”.

Pengertian Sunnah Secara Istilah

Ulama berbeda pendapat mengenai makna Sunnah secara istilah, yang demikian itu disebabkan karena perbedaan tujuan dalam pembahasan mereka. Ulama Ushul Fiqh mereka lebih memperhatikan pembahasan tentang dalil-dalil syar’i, dan Ulama Ahli Hadits mereka lebih memperhatikan dengan penukilan apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam, dan Ulama Fiqh mereka lebih memperhatikan pembahasan mengenai hukum-hukum syariat, wajib, harom, atau makruh.

Pengertian Sunnah Menurut Ulama Ahli Hadits

Menurut Jumhur Ulama ; Sunnah adalah apa saja yang disandarkan kepada Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam perkataan, atau perbuatan, atau ketetapan, atau sifat khilqiyah (sifat jasmani Nabi) atau sifat khuluqiyah (akhlak Nabi) secara haqiqi atau secara hukum,sampai gerak-gerik Nabi, dan diamnya Nabi, dalam keadaan beliau sadar dan tidur / mimpi, demikian juga apa yang disandarkan pada sahabat, dan tabi’in berupa perkataan dan perbuatan.

Pengertian Sunnah seperti diatas sama denga pengertian Hadits menurut Jumhur Ahli Hadits, maka meliputi Hadits marfu’, Hadits mauquf, dan Hadits maqtu’.

Hadits marfu’ adalah apa yang disandarkan pada Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam berupa perkataan, perbuatan serta ketetapan beliau. Hadits mauquf adalah apa yang disandarkan pada sahabat. Hadits maqtu’ adalah apa yang disandarkan kepada tabi’in atau orang setelah tabi’in ( tabi’ut tabiin ).

Pengertian Sunnah Menurut Ahli Fiqih

Mereka mengatakan ( ahli fiqih ), Sunnah adalah apa saja yang tetap dari Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam selain dari keharusan atau kewajiban, atau apa-apa yang diharapkan dari seorang yang sudah terbebani syariat (hamba) untuk dia melakukannya yang bukan merupakan sebuah kepastian atau kewajiban, pelakunya diberi pahala, dan orang yang meninggalkannya tidak diberi hukuman.

Dengan kata lain pembahasan para ahli Fiqih seputar Sunnah berkisar pada amalan-amalan seorang hamba, apakah dia termasuk yang wajib, atau sunnah, atau mubah menurut Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam, serta mencakup juga amalan-amalan yang para sahabat berijtihad didalamnya, seperti pengumpulan Al Qur’an, dll.

Pengertian Sunnah menurut Ulama Ahli Ushul

Mereka mengatakan ( ahli ushul ), Sunnah adalah apa yang dinukil dari Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam 
berupa perkataan beliau, perbuatan beliau, ataupun ketetapan beliau.

Hal-hal Wajib yang dianggap Sunnah

Hal-hal yang sebenarnya sebuah hal yang wajib akan tetapi dianggap sunnah oleh sebagian masyarakat awam diantaranya adalah ;

  • Sholat berjamaah dimasjid lima waktu


    Banyak masyarakat menganggap perkara sholat berjamaah di masjid lima waktu hanyalah perkara sunnah (yang apabila dikerjakan berpahala dan apabila ditinggalkan tidak mengapa) dan bukan wajib, ini adalah sebuah pemahaman yang salah, diantara dalil yang mengisyaratkan hal tersebut adalah ;

    Firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah:43).

    Berkata Al-Imam Abu Bakr Al-Kasaniy Al-Hanafiy ketika menjelaskan wajibnya melaksanakan shalat berjama’ah: “Adapun (dalil) dari Al-Kitab adalah firman-Nya (yanga artinya): “Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah:43), Allah Ta’ala memerintahkan ruku’ bersama-sama orang-orang yang ruku’, yang demikian itu dengan bergabung dalam ruku’ maka ini merupakan perintah menegakkan shalat berjama’ah. Muthlaqnya perintah menunjukkan wajibnya mengamalkannya.” (Bada`i’ush-shana`i’ fi Tartibisy-Syara`i’ 1/155 dan Kitabush-Shalah hal.66).

    Firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud maka mereka tidak mampu (untuk sujud). (Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (Al-Qalam:42-43).

    Yang dimaksud dengan “seruan untuk sujud” menurut ‘Abdullah bin ‘Abbas dalam ayat ini adalah : “Mereka mendengar adzan dan panggilan untuk shalat tetapi mereka tidak menjawabnya” (Ruhul Ma’ani).

    Tidak hanya seorang dari salaf umat ini yang menguatkan tafsiran ini, atas dasar inilah berkata Ka’ab Al-Ahbar: “Demi Allah tidaklah ayat ini diturunkan kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi dari (shalat) berjama’ah.” (Tafsir Al-Baghawiy 4/283, Zadul Masir 8/342 dan Tafsir Al-Qurthubiy 18/251).

    Telah Berkata Sa’id bin Jubair: “Mereka mendengar (panggilan) ‘Hayya ‘alal falaah’ tetapi tidak memenuhi panggilan tersebut.” (Tafsir Al-Qurthubiy dan Ruhul Ma’ani .

    Dan banyak pernyataan ahli tafsir bahwasanya dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjama’ah. Al-Hafizh Ibnul Jauziy mengatakan : “Dan dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjama’ah.” (Zadul Maisir).

    – Hadits Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Abu Huroiroh ia berkata ; Seorang laki-laki buta mendatangi Nabi lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya tidak mempunyai seorang penuntun yang mengantarkanku ke masjid”. Lalu ia meminta Rasulullah untuk memberi keringanan baginya untuk shalat di rumahnya maka Rasulullah memberikannya keringanan. Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak kembali, Rasulullah memanggilnya lalu berkata: “Apakah Engkau mendengar panggilan (adzan) untuk shalat?” ia menjawab “benar”, maka Rasulullah bersabda: “Penuhilah panggilan tersebut.”

    Bahkan didalam Hadits ini Abdulloh Umi Maktum seorang yang buta matanya, dan tidak ada baginya orang yang menuntunya untuk pergi ke masjid tidak mendapat keringanan dari Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam, lantas bagaimana dengan orang yang sehat secara jasmani…?

    Pendapat ini (wajibnya sholat jamaah lima waktu dimasjid) dikuatkan oleh fatwa Lajnah Daimah lil Buhuts Wal Ifta’ (komite tetap untuk riset dan fatwa Saudi Arabia).

    Maka dalil-dalil diatas menunjukan bahwasanya sholat berjamaah lima waktu dimasjid itu adalah sebuah perkara wajib yang dituntut untuk melakukanya kecuali ada udzur syar’i.

    You may also like...

    2 Responses

    1. apep ependi says:

      tolong dong, contoh lain dari wajib yang dianggap sunnah selain satu yang di atas?

    2. Centos VPS says:

      Oleh sebab itu, penting kiranya kita memaknai apa sebenarnya definisi sunnah, serta meluruskan salah

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *