Seputar Aqidah

Sesungguhnya segala puji bagi Alloh semata, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan serta bertaubat kapada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Alloh, niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkanya. Dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka tiada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada Ilaah yang berhak diibadahi dengan benar selain Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shollollohu ‘alaihi wa sallam adalah Hamba dan utusan-Nya. Sholawat dan salam semoga tercurah atas beliau, atas keluarga dan segenap sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari Kemudian kelak. Amma ba’du :

 
Sesungguhnya jalan keselamatan hanyalah satu, yaitu jalan Alloh yang lurus. Yang telah Alloh sebutkan dalam firman-Nya :
 
و أن هذا صرطى مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله
 
( Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya). QS. Al An’am : 153
 
Telah dinukil dari sebuah hadits shahih bahwa suatu ketika Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam menarik sebuah garis lurus, lalu menarik garis-garis ke kanan dan ke kiri dari garis yang lurus itu. Kemudian beliau bersabda ;
 
هذا سبيل الله, و هذه الخطوط التي عن يمينه و يساره سبل الشياطين. ثم قرأ قول الله تعالى : ( رواه أحمد و الدارمي)
 
( Inilah (garis lurus) jalan Alloh, sementara garis-garis kekanan dan kekiri itu adalah jalan-jalan setan, kemudian beliau membaca ayat : “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dak janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya). HR. Ahmad dan Ad Darimi ( Fitanu hadza Az-Zaman wa kaifa Muqowamatuha, Syaikh Abdullah bin Abdurrohman Al Jibril )
 
Maka inilah aqidah yang benar, aqidah yang lurus yang diwariskan Nabi kita Muhammad Shollollohu ‘alaihi wa sallam, yang setiap mukmin harus memegang erat-erat aqidah ini dan menggigitnya dengan gigi gerahamnya sampai dia mati dalam keadaan memegang teguh aqidah ini.

Definisi Aqidah
 
Aqidah menurut bahasa berasal dari kata al-‘aqd yaitu ikatan, memintal, menetapkan, menguatkan, mengikat dengan kuat, berpegang teguh, yang dikuatkan, meneguhkan, dan diantaranya yakin dan keteguhan. Al-‘aqd lawanya adalah al-hill (terurai). Aqidah adalah hukum yang tidak menerima keraguan didalamnya bagi orang yang meyakininya. Aqidah dalam agama maksudnya adalah keyakinan tanpa perbuatan, seperti keyakinan tentang keberadaan Alloh dan diutusnya Rosul.
Menurut Istilah aqidah adalah hal-hal yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa merasa tentram kepadanya, sehingga menjadi keyakinan yang kukuh yang tidak tercampur oleh keraguan.
Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang kukuh kepada Rububiyah Alloh Ta’ala, Uluhiyah-Nya, serta Asma’ dan Shifat-Nya, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rosul-Rosul-Nya, hari Akhir, qodar yang baik dan buruknya, semua yang ada dasarnya berupa perkara-perkara ghaib, Ushuludin (Pokok-pokok agama), apa yang menjadi kesepakatan Salafush Shalih, dan ketundukan kepada Alloh secara sempurna dalam perintah, hukum dan ketaatan, serta ittiba’ Rosullulloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam.
 
Aqidah Islamiyah jika disebut secara mutlak ia adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu aqidah dari tiga generasi terbaik, Sahabat, Tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Aqidah Islamiyah memilikai nama-nama lain menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai sinonimnya dan menujukkan pada pengertian tersebut, diantaranya at-Tauhid, as-Sunnah, Ushuludin, al-Fiqhul Akbar, asy-Syari’ah, dan al-Iman. ( Al Wajiz fi Aqidatis Salafish Shaalih Ahlis Sunnati wal Jama’ah, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil Hamid Alu Isma’il )
 
Orang yang meyakini dan mengamalkan aqidah ini dengan baik maka dia disebut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sedangkan menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Pengertian Sunnah (secara bahasa) dalam istilah ini ( Ahlus Sunnah wal Jama’ah ) adalah jalan yang diikuti didalam agama ini yaitu apa-apa yang Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa ar-Rosyidin berada diatasnya (yakini), aqidah (mereka), amal-amal (mereka) dan perkataan (mereka). Dan yang dimaksud Jama’ah dalam istilah ini adalah perkumpulan yang merupakan lawan dari perpecahan.
 
Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka itu adalah al Jama’ah yang wajib diikuti karena mereka berada diatas kebenaran dan mereka mengambil kebenaran tersebut, dan karena mereka selalu sepakat (tidak menyelisihi) terhadap pemimpin mereka (kaum muslimin), dan juga terhadap jihad, terhadap sunnah dan ittiba’, dan meninggalkan bid’ah, dan perpecahan.
Mereka adalah Ahlul Hadits dan Atsar dikarenakan besarnya perhatian mereka terhadap hadits Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam secara periwayatan, pemahaman, dan ittiba’an (mengikuti), dan mereka mendahulukan atsar daripada pandangan akal mereka.
Mereka adalah Firqotun Najiyah ( golongan yang selamat ), disebutkan didalam sabda Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam ;
والذي نفس محمد بيده لتفترقن أمتي على ثلاث و سبعين فرقة, واحدا في الجنة و ثنتان و سبعون في النار, قيل : يا رسول الله من هم ؟ قال : الجمعة .
( Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada didalam genggamanya, umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, hanya satu golongan yang masuk syurga dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka, dikatakan kepada rosululloh; Wahai rosululloh siapakah yang satu golongan tersebut ? Rosululloh menjawab; Mereka adalah Al Jama’ah ) HR. Ibnu Majah dalam sunannya
Hadits ini sangatlah masyhur dengan lafadz yang sangat banyak. Diantaranya adalah yang diriwayatkan Abu Dawud dalam sunannya ( 4/197,198 no. 4596 dan 4597 ), Ibnu Majah dalam sunannya ( 2/1321,1322 no. 3991 dan 3993 ), Imam Turmudzi dalam sunannya ( 5/25,26 no. 264 dan 2641 ). Hadits ini juga di shohihkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa dan Syaikh Albani dalam as Silsilah ash Shohihah.
Mereka adalah at Toifah al Mansuroh yang disebutkan didalam sabda Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam ;
 
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق, لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله و هم كذلك
 
( Tidak akan hilang sekelompok orang dari umatku yang mereka selalu berada di atas kebenaran, tidak mencelakakan mereka orang yang tidak memberi pertolongan kepada mereka (mencela mereka), mereka tetap dalam keadaan demikian sampai datangnya hari kiamat ). HR.Muslim ( 65/13 )
 
Hadits ini diriwayatkan melalui banyak jalan dan dengan lafadz yang berbeda-beda, dan penjelasan mengenai fiqih hadits ini bisa dilihat di as Silsilah ash Shohihah (1/478-486 no. 270).
 
Ciri / Karakteristik Ahlus Sunnah wal Jama’ah
 
  1. Bahwasanya tidak ada bagi mereka yang diikuti yang mereka berta’asub kepadanya kecuali kepada Rosul Shollollohu ‘alaihi wa sallam dan mereka orang yang paling mengetahui keadaan beliau dan tentang perkataan beliau Shollollohu ‘alaihi wa sallam.
  2. Bahwasanya mereka ( Ahlus Sunnah wal Jama’ah ) menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah Imam mereka, dan mengambil agama dari keduanya. Dan apa-apa yang ada dalam akal mereka dan pemikiran mereka juga pandangan mereka, maka mereka bandingkan dengan Al Qur’an dan As Sunnah, apabila mereka menemukan kesesuaian dengan keduannya maka mereka bersyukur pada Alloh atas kesesuaian akal mereka dengan keduannya. Dan apabila mereka menemukan perselisihan antara akal mereka dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka mereka meninggalkan akal mereka dan mereka menerima Al Qur’an dan As Sunnah dan mengembalikan kekeliruan kepada diri mereka sendiri. Sesungguhnya Al Qur’an dan As Sunnah tidaklah menunjuki kecuali kepada kebenaran, dan akal manusia kadang benar dan kadang salah/batil.
  3. Bahwasanya tidak ada gelar bagi mereka yang mereka dikenal denganya dan tidak ada penisbatan yang mereka menisbatkan diri kepadanya, sebagaimana berkata sebagian dari para Imam ketika mereka ditanya tentang Sunnah maka mereka menjawab : “As Sunnah tidak ada nama lain baginya kecuali As Sunnah “. Sedangkan ahlul bid’ah maka kadang-kadang mereka menisbatkan diri mereka kepada maka makalah, dan kadang-kadang mereka menisbatkan diri mereka kepada perkataan saja, adapun Ahlus Sunnah maka mereka berlepas diri dari penisbatan-penisbatan tersebut, penisbatan mereka hanya kepada Al Hadits dan As Sunnah. ( Mu’alim Ushulil Fiqh ‘inda Ahlis Sunnati wal Jama’ah – Muhammad bin Husain bin Hasan )

Definisi Salaf
 
Banyak dari masyarakat yang masih awam dengan pengertian ini, mereka mengartikan Salaf sebagai sebuah kelompok atau sebuah gerakan tertentu. Bahkan mereka tak jarang mereka menganggapnya sebagai kelompok yang nyleneh (asing) yang berbeda dari kebanyakan masyarakat umunya, dari mulai penampilan, pakaian, sikap dan yang lainnya. Ini disebabkan kejahilan mereka, dan kemalasan mereka untuk menuntut ilmu dan mempelajari Din ini dari sumbernya yang jernih yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.
 
Salaf menurut bahasa adalah ma madho wa taqoddam ( apa yang telah berlalu dan terdahulu ). Salaf adalah golongan yang terdahulu, atau kaum yang terdahulu dalam perjalanan. Alloh berfirman ;
 
فلمآ ءاسفونا انتقمنا منهم فأغرقنهم أجمعين * فجعلنهم سلفا و مثلا للآخرين *
 
( Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian ) Az Zukhruf : 55-56
Yakni kami jadikan mereka sebagai ” pendahulu ” ( contoh ) bagi siapa yang melakukan perbuatan seperti mereka.
Salaf juga diartikan siapa yang mendahului dari bapak-bapakmu dan kaum kerabatmu yang melebihimu dalam usia dan keutamaan.
Sedangkan menurut istilah jika Salaf disebut oleh ulama Aqidah, maka semua definisi mereka berkisar diseputar Sahabat dan Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti mereka dari generasi-generasi terbaik dari kalangan para Imam terkemuka yang diakui keimaman, keutamaan, ittiba’ Sunnah dan keimamam didalamnya, dari kalangan mereka yang disepakati oleh umat atas keimamam dan kedudukan mereka yang besar dalam agama. Karena itu generasi awal disebut Salafush Sholih. ( Al Wajiz fi Aqidatis Salafish Shaalih Ahlis Sunnati wal Jama’ah, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil Hamid Alu Isma’il )
 
Maka yang istilah Salaf itu adalah sebuah penisbatan yang dinisbatkan kepada tiga generasi terbaik yang dikabarkan oleh Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dan dishohihkan oleh syaikh Albani ;
 
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
 
( Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya )
Istilah salaf juga ditujukan kepada semua orang yang mengikuti pemahaman tiga generasi yang disebutkan didalam hadits diatas dengan baik, mulai dari aqidah, hukum dan perilaku, orang yang mengikuti mereka dengan baik maka dia telah menempuh manhaj Salaf. Pembatasan waktu disini bukanlah sebagai syarat akan tetapi syaratnya adalah menyelarasi Al Qur’an dan As Sunnah dalam aqidah hukum dan perilaku, walaupun berbeda zaman dengan tiga generasi diatas. Dan semua orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan baik meka mereka telah menempuh manhaj yang mulia ini, yaitu manhaj Salaf.
 
Terbantahlah sudah tuduhan atau kesalahan anggapan tentang Salaf. Semoga Alloh senantiasa memberikan rahmat-Nya pada dakwah yang mulia ini.
 
Wa Shollollohu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Alihi wa Sohbihi wa Sallam
 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *