HUKUM SEPUTAR JENAZAH (Bag. II)

Segala puji hanya milik Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sholawat serta salam semoga tercurah atas Nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam, begitu pula atas keluarga, sahabat, serta siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya sampai hari kiamat nanti.
Kita akan melanjutkan pembahasan mengenai hukum-hukum seputar jenazah, yang kemarin telah kita bahas sebagiannya. Adapun pembahasan kali ini mengenai seputar hukum kain kafan, dan sholat jenazah.

Hukum Kain Kafan
  1. Disunahkan menggunakan kain yang berwarna putih bersih
Hukum kain kafan sebagaimana hukum memandikan mayat, yaitu fardhu kifayah. Disunnahkan menggunakan kain yang berwarna putih, bersih, baik kain kafan baru ataupun lama. Begitu juga disyaratkan agar bisa menutupi seluruh badan si mayat. [1]
Sebagaimana sabda Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam :
البسوا من ثيابكم البياض فإنها خير ثيابكم وكفنوا فيها موتاكم
“Pakailah pakaian yang putih dari pakaiannmu karena sesungguhnya pakaian putih itu adalah pakaian yang terbaik bagi kamu sekalian, dan kafanilah dengan pakaian tersebut orang yang meninggal diantara kamu sekalian.” [2]
  1. Disunahkan untuk laki-laki dengan tiga lapis kain dan untuk perempuan dengan lima lapis kain
Pada hadits yang bersumber dari Aisyah :
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفِّنَ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سُحُولِيَّةٍ لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ

“Dari Aisyah bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam dikafani dengan tiga lapis kain yang putih bersih (terbuat dari katun) yang bukan merupakan baju atau imamah (penutup kepala/ sorban).” [3]

Penyusun kitab Al Muntaqo Syarhul Muwatto’ Syaikh Abu Al Walid Ibnu Ayyub mengatakan : “Sesungguhnya perkataan beliau “bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam dikafani dengan tiga lapis kain” menunjukkan bahwasannya yang disukai didalam mengkafani adalah dengan yang ganjil, karena sesungguhnya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam dikafani dengan tiga lapis kain, maka dibenci untuk mengurangi dari yang tiga itu apabila memang mampu, dan dibenci pula menambah lebih dari tiga lapis kain kecuali diganjilkan.” [4]

Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan :”Yang wajib adalah kain kafan menutupi tubuh si mayat. Disunahkan mengkafani mayat laki-laki dengan tiga lapis kain kafan, dan lima lapis bagi mayat perempuan : sarungnya, khimarnya (tutup kepala), bajunya dan dua lipatan. Apabila mayatnya anak kecil laki-laki maka dikafani dengan satu lipatan kain kafan dan makruh hukumnya dengan tiga lipatan kain kafan. Apabila si mayat tadi anak kecil perempuan, maka dikafani dengan satu lapis sebagai bajunya dan duanya dilipat. Disunahkan kafan si mayat diberi harum-haruman (setelah diperciki air) dan sejenisnya agar bau harum-haruman tadi lebih melekat pada kain kafan.” [5]

Berkaitan dengan sifat mengkafani mayat Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan : ”Dibentangkan tiga lapis kain tadi, sebagiannya diatas sebagian yang lain, kemudian si mayat diletakkan diatasnya dalam keadaan terlentang, kemudian dibungkus. Setelah itu diberi “Hanuth”(harum-haruman) yang ditaruh dikain pada kapas, diletakkan diantara pantat si mayat kemudian bagian atasnya diikat dengan kain, kemudian sisa kapas yang sudah dikasih harum-haruman tadi diletakkan diatas kedua matanya, kedua lobang hidungnya, mulutnya, kedua lobang telinganya, dan diatas anggota sujudnya, seperti dahinya, hidungnya, kedua tanganya, kedua lututnya dan perutnya. Hendaklah setiap kain kafan diberi harum-haruman, begitu pula kain kafan yang berada di kepala mayat. Kemudian ujung kain bagian atas ditarik melalui bagian kiri ke bagian kanan, begitu juga ujungnya kain bagian kanan atas ditarik ke bagian kirinya, begitu pula yang kedua kalinya, ketiga kalinya. Sehingga kain yang ada di kepala si mayat lebih banyak dari kain yang berada di kakinya, kemudian lebihnya kain yang ada di kepala si mayat tadi di letakkan di wajahnya, begitu juga lebihnya kain yang ada di atas kaki si mayat diletakkan diatas kakinya, kemudian diikat agar tidak lepas pada saat berada didalam kuburnya. Mayat perempuan dikafani dengan lima lembar kain kafan : sarungnya, bajunya khimarnya (tutup kepala), kemudian dilipat dengan dua lipatan.” [6]

Hukum Melaksanakan Sholat Mayat

Hukum melaksanakan sholat mayat adalah fardhu kifayah (apabila sudah ada yang melaksanakanya maka gugurlah kewajiban terhadap yang lain), dan disunahkan bagi yang lain, jika mereka semua meninggalkanya naka semuanya berdosa. Ada beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan mensholati jenazah, diantaranya adalah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا فَإِنَّه يَرْجِعُ مِنْ الْأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ

“Dari Abu Huroiroh bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :”Barang siapa mengikuti jenazah seorang mukmin karena keimanan dan mengharap-harap pahala dari Alloh dan menyertainya sampai dia mensholatinya dan selesai dari menguburkanya maka sesungguhnya dia kembali dengan pahala dua qirot, tiap-tiap qirot semisal gunung uhud, dan barang siapa mensholati jenazah kamudian kembali sebelum dikuburkan maka sesungguhnya dia kembali dengan satu qirot” [7]

Imam Nawawi menyatakan : “Bahwasanya dengan sholat itu mendapatkan satu qirot, dan dengan mengikuti jenazah itu satu qirot lain, menyempurnakan secara keseluruhan mendapatkan dua qirot. Dan dalil bahwasanya keseluruhanya dua qirot adalah riwayat muslim didalam shohihnya,..” kemudian beliau menyebutkan dua hadits diantaranya adalah hadits ini. [8]

Penjelasan tentang qirot ini berbeda-beda di dalam berbagai riwayat, di dalam riwayat Ibnu Sirin sebagaimana hadits ini dijelaskan “semisal uhud”, demikian juga didalam riwayat Walid bin Abdurrohman. Adapun pada hadits yang diriwayatkan Imam Nasa’I dari jalur As-Sya’bi “lebih besar dari pada gunung uhud”, juga pada riwayat Abu Sholih yang diriwayatkan Imam Muslim “yang paling kecil dari keduanya (qirot) adalah semisal uhud”, dan dari jalur Ubay bin Ka’ab yang diriwayatkan Ibnu Majah “lebih besar dari pada uhud”. [9] Di dalam riwayat yang lain “Wahai Rosululloh, apa itu dua qirot..? Rosululloh menjawab : “Seperti dua buah gunung yang besar.” [10]

Tata Cara Melaksanakan Sholat Mayat

Dijelaskan oleh Syaikh Sholih bin Fauzan : “Niat, menghadap qiblat, menutup aurat, suci (badan, pakaian, tempat sholat) jauh dari benda-benda najis, Islam (yang mensholati dan yang disholati), hadirnya jenazah jika berada dalam satu negeri orang yang mensholati, mukallaf.” [11]

Sholat jenazah tidak boleh dilakukan pada waktu-waktu yang terlarang kecuali dalam keadaan dhoruroh (darurat) berdasarkan hadits shohih dari ‘Uqbah bin ‘Amir -semoga Alloh meridhoi beliau- beliau mengatakan :

ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن أو أن نقبر فيهن موتانا : حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس وحين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب

“Tiga waktu dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit, yaitu : ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat, dan ketika matahari hampir terbenam (Diriwayatkan oleh imam Muslim dalam Shihihnya hadits No. 1373)

Adapun rincian pelaksanaanya adalah sebagai berikut :

  1. Bertakbir yang pertama kemudian membaca Al Fatihah dan satu surat
Syaikh Al-Albani juga memberikan penjelasan : “Bertakbir empat, lima, sampai sembilan kali takbir. Kesemuanya itu telah tetap dari Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam, maka yang manapun yang dilakukan itu sudah mencukupi, dan yang lebih utama bergantian kadang-kadang dilakukan yang ini, dan kadang kadang yang lain, sebagaimana perkara semisalnya, yaitu doa-doa iftitah juga bentuk tasyahud dan sholawat atas Nabi Ibrohim dan lain-lain. Jika perlu dilakukan (harus memilih- Pent.) salah satu dari hal itu maka dengan yang empat takbir, dikarenakan hadits-hadits mengenai hal ini lebih kuat dan lebih banyak dan mengikuti bertakbir sebagaimana takbirnya imam. Disyariatkan baginya untuk mengangkat kedua tangannya pada saat takbir yang pertama, pada hal ini (mengangkat kedua tangan pada saat takbir yang pertama- pent.) ada dua hadits yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya dan telah disepakati ulama atasnya. Kemudian setelah takbir yang pertama membaca Al-Fatihah dan satu surat sebagaimana hadits dari Tholhah bin Abdulloh bin Auf. Membacanya adalah dengan sir (pelan) sebagaimana hadits Abu Umamah bin Sahl. [12]

  1. Bertakbir yang kedua kemudian membaca sholawat
Setelah itu bertakbir yang kedua dan bersholawat atas Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana hadits Abu Umamah yang disebutkan bahwasanya telah mengabarkan kepada dia seorang laki-laki yang termasuk sahabat Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam :

أن السنة في الصلاة على الجنازة أن يكبر الإمام ثم يقرأ بفاتحة الكتاب بعد التكبيرة الأولى سرا في نفسه ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ويخلص الدعاء للجنازة في التكبيرات ( الثلاث ) لا يقرأ في شيء منهن ثم يسلم سرا في نفسه [ حين ينصرف [ عن يمينه ] والسنة أن يفعل من ورائه مثلما فعل إمامه ] )

“Bahwasanya sunnah didalam sholat jenazah, imam bertakbir kemudian membaca Al Fatihah setelah takbir yang pertama secara sir yang hanya didengar olehnya sendiri, kemudian bersholawat atas Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam, mengikhlaskan doa (mendoakan dengan ikhlas- pent.) untuk jenazah setelah takbir (yang ketiga), tidak dibaca apapun setelah itu kemudian salam secara sir yang hanya didengar olehnya sendiri [ketika berpaling [kearah kanan] dan sunnah orang yang berada dibelakangnya mengerjakan sebagaimana apa yang dikerjakan imamnya].” [13]

  1. Bertakbir yang ketiga kemudian mendo’akan jenazah
Sebagaimana hadits Abu Umamah diatas, juga sabda Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam:

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ

“Apabila engkau sekalian mensholatkan mayat maka do’akanlah dia dengan ikhlas” [14]

Adapun do’a yang disyariatkan adalah sebagaimana riwayat-riwayat yang shohih berikut ini :

الأول : ( صحيح ) (اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ ( وفي رواية كما ينقى ) الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا ( وفي رواية : زوجة ) خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ)

“Ya Allah! Ampunilah dia berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia, luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan (didalam riwayat lain ( كما ينقى baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia pent.), dan keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia pent.), dan berikanlah pasangan (didalam riwayat lain زوجة ) yang lebih baik daripada pasangannya, dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka.” (Diriwayatkan Imam Muslim didalam shohihnya hadits No. 1600)

الثاني : ( صحيح ) اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ
“Ya Allah ampunilah orang yang masih hidup dari kami dan yang sudah mati, yang hadir maupun yang ghaib (yang tidak hadir), yang kecil maupun yang besar, yang laki-laki maupun yang perempuan, Ya Allah siapa diantara kami yang Engkau hidupkan maka hidupkanlah dia dalam islam, dan barang siapa yang diantara kami Engkau matikan maka matikanlah dia di dalam keimanan, Ya Alloh janganlah Engkau haramkan bagi kami pahala atas kematiannya [15] dan janganlah Engkau jadikan kami orang-orang yang sesat setelah beriman.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shohihnya hadits No. 3135)

الثالث : ( صحيح ) اللَّهُمَّ إِنَّ فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ فِي ذِمَّتِكَ وَحَبْلِ جِوَارِكَ فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَقِّ فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Alloh, sesungguhnya fulan bin fulan (disebutkan nama si mayat- pent.) berada didalam jaminan-Mu, dan naungan penjagaan-Mu, maka jagalah dia dari fitnah kubur dan adzab neraka, dan Engkau Maha memenuhi janji dan Maha benar, maka ampunilah dia dan rahmatilah dia, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud didalam Sunan-nya, hadits No. 2787)

الرابع : ( صحيح ) اللَّهُمَّ عَبْدك وَابْن أَمَتك اِحْتَاجَ إِلَى رَحْمَتك وَأَنْتَ غَنِيّ عَنْ عَذَابه ، إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِي إِحْسَانه ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ

“Ya Alloh hamba-Mu dan anak keturunan dari umat-Mu membutuhkan rahmat-Mu, Engkau menyingkirkan adzabnya , jika seandainya dia adalah orang yang baik maka tambahlah kebaikannya, dan jika seandainya dia adalah orang yang buruk maka abaikanlah keburukannya.” (Hadits No. 1275, Al Mustadrok Lil Hakim) [16]

  1. Bertakbir yang keempat, diam sejenak kemudian salam
Setelah selesai membaca do’a untuk jenazah / mayit kemudian bertakbir yang keempat, diam sejenak, kemudian salam. Ini sebagai mana hadits Abu Ya’fur dari Abdulloh bin Abi Aufi -semoga Alloh meridhoinya beliau- beliau mengatakan :

شهدته وكبر على جنازة أربعا ثم قام ساعة – يعني – يدعو ثم قال : أتروني كنت أكبر خمسا ؟ قالوا : لا . قال : إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يكبر أربعا

“Aku menyaksikan beliau bertakbir untuk jenazah (sholat jenazah- pent.) sebanyak empat kali kemudian berhenti sejenak -yaitu- berdo’a, kemudian beliau bersabda : “Apakah kamu sekalian menyaksikan aku bertakbir sebanyak lima kali,.?” Mereka menjawab : “Tidak” Abdulloh bin Aufi mengatakan : “Sesungguhnya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam beliau bertakbir sebanyak empat kali.” [17]

Syaikh Al Albani menyatakan bahwa disyariatkan juga do’a ketika berhenti sejenak antara takbir yang terakhir dan salam, berdalil dengan riwayat ini. Akan tetapi beliau tidak menyebutkan do’a khusus berkaitan dengan hal ini. Kemudian salam seperti salam ketika sholat wajib, sebagaimana hadits yang bersumber dari Abdulloh bin Mas’ud -semoga Alloh meridhoi beliau- beliau mengatakan :

ثلاث خلال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفعلهن تركهن الناس إحداهن التسليم على الجنازة مثل التسليم في الصلاة

“Ada tiga perkara yang Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengerjakanya, dan manusia meninggalkannya, salah satunya adalah salam terhadap jenazah (ketika sholat jenazah- pent.) sebagaimana salam ketika sholat.” (Hadits ini terdapat dalam As-Sunan Al-Kubro Lil Baihaqi juz 4 halaman 43 Maktabah Syamilah)

Diperbolehkan juga salam hanya sekali sebagaimana hadits Abu Huroiroh -semoga Alloh meridhoinya- beliau mengatakan :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى على جنازة فكبر عليها أربعا وسلم تسليمة واحدة

“Bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mensholati jenazah, maka beliau bertakbir sebanyak empat kali dan beliau salam sekali.” (Hadits ini terdapat dalam Sunan Ad-Daruqni hadits No.1839)

Sebagaimana sunnah Nabi, salam dilakukan dengan sir (pelan) berdasarkan hadits Abu Umamah (yang telah kami sebutkan diatas). [18]


1. Lihat Mukhtashor Ahkamil Janaiz Syaikh Sholih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan halaman 17 (Edisi Terj. Pustaka Arofah)
2. Diriwayatkan Abu Dawud Dalam Sunannya, Hadits No. 3380 dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albani, hadits ini juga beliau kutip dalam kitab Talkhiisu Ahkamil Janaiz halaman 36 Maktabah Syamilah
3. Diriwayatkan Ibnu Hibban, Hadits No. 3102 Shohih Ibnu Hibban Maktabah Syamilah
4. Al Muntaqo Syarhul Muwatto’ juz II halaman 21 Maktabah Syamilah
5. Mukhtashor Ahkamil Janaiz Syaikh Sholih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan halaman 17-18 (Edisi Terj. Pustaka Arofah)
6. Mukhtashor Ahkamil Janaiz Syaikh Sholih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan halaman 18-19 (Edisi Terj. Pustaka Arofah)
7. Shohih Bukhori juz I Hadits No.45 Maktabah Syamilah
8. Syarhu an-Nawawi ‘ala Muslim juz 3 halaman 127 Maktabah Syamilah
9. Fatkhul Baari Juz 4 halaman 384 Maktabah Syamilah
10. Lihat Talkhiisu Ahkamil Janaiz Syaikh Al-Albani halaman 38 Maktabah Syamilah
11. Mukhtashor Ahkamil Janaiz Syaikh Sholih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan halaman 20 (Edisi Terj. Pustaka Arofah)
12. Talkhiisu Ahkamil Janaiz Syaikh Al-Albani halaman 54 Maktabah Syamilah, ini jugalah yang menjadi pendapat jumhur ulama sebagaimana dinukil oleh Al Mubarakfury didalam Tuhfatul Ahwadzi juz 3 halaman 84 Maktabah Syamilah
13. Talkhiisu Ahkamil Janaiz Syaikh Al-Albani halaman 53 Maktabah Syamilah
14. Diriwayatkan Ibnu Hibban dalam Shohih Ibnu Hibban Hadits No. 3141, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Talkhiisu Ahkamil Janaiz Syaikh Al-Albani halaman 53 Maktabah Syamilah
15. Berkaitan dengan kalimat لَا تَحْرِمنَا أَجْره Al ‘Adzim Abadi dalam Aunul Ma’bud juz 7 halaman 185 Maktabah Syamilah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah “pahala kematianya” dikarenakan seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min lainnya, maka kematiannya merupakan musibah baginya, yang dia mengharapkan pahala dari musibah tersebut.
16. Keempat hadits tentang do’a untuk si mayit ketika sholat jenazah ini telah dinyatakan shohih oleh Syaikh Al Albani didalam Talkhiisu Ahkamil Janaiz Syaikh Al-Albani halaman 55 Maktabah Syamilah
17. Hadits ini terdapat dalam As-Sunan Al-Kubro Lil Baihaqi juz 4 halaman 35 Maktabah Syamilah, juga dinyatakan shohih oleh Syaikh Al Albani
18. Lihat Talkhiisu Ahkamil Janaiz Syaikh Al-Albani halaman 55-56 Maktabah Syamilah
InsyaAlloh bersambung pada postingan berikutnya,…

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *