HUKUM SEPUTAR JENAZAH (Bag. IV)

Artikel kali ini masih merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya tentang “Hukum Seputar Jenazah”. Pada postingan sebelumnya masih pada bahasan seputar “Menguburkan Mayat”.
Bolehkah menguburkan mayat pada malam hari,..?

Ulama berbeda pendapat akan hal ini, dikarenakan memang terdapat riwayat yang menyatakan :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ يَوْمًا فَذَكَرَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِهِ قُبِضَ فَكُفِّنَ فِي كَفَنٍ غَيْرِ طَائِلٍ وَقُبِرَ لَيْلًا فَزَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُقْبَرَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ
“Bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah pada suatu hari, beliau menyebutkan seorang laki-laki dari kalangan sahabat beliau dibunuh, lalu dia dikafani dengan tidak sempurna (tidak menutupi tubuh secara sempurna –pent.), dan dikuburkan pada malam hari, maka Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mencegahnya dari dikuburkan pada malam hari hingga dia disholatkan,…” [1]
Diantara yang berpendapat dilarangnya menguburkan mayat pada malam hari kecuali dalam keadaan dhorurot adalah Hasan al-Bashri, beliau berdalil dengan hadits ini [2]. Akan tetapi pendapat ini terbantah, dikarenakan ada berbagai riwayat yang menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan oleh para salaf (pendahulu), sebagaimana riwayat bahwa Abu Bakar dikuburkan pada malam hari, kemudian ketika ‘Ali bin Abu Tholib menguburkan Fathimah pada malam hari, demikian juga hadits dari ‘Aisyah yang mengisyaratkan bahwa Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam dikuburkan pada malam hari [3]. Ini jugalah yang menjadi pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama), imam Nawawi juga memberikan penjelasan terhadap hadits ini; “Adapun pelarangan dari menguburkan pada malam hari hingga mayat disholatkan maka dikatakan : Sebabnya sesungguhnya penguburan pada siang hari akan banyak manusia yang menghadiri dan mensholatkannya, dan tidaklah menghadirinya apabila dikuburkan pada malam hari kecuali bersendirian (sedikit –pent.). Dan dikatakan : Sesungguhnya mereka menguburkannya pada malam hari disebabkan jeleknya mengkafani ketika malam hari karena tidak jelas (gelap –pent.).” [4] Maka ‘illahnya adalah sedikitnya orang dan ditakutkan tidak bisa mengkafani dengan sempurna, jadi apabila dua illah ini dapat dihilangkan jelaslah bahwa menguburkan mayat pada malam hari diperbolehkan.
Seorang suami boleh menguburkan istrinya, hal ini sebagaimana hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh imam Nasa’i [5], dengan catatan seorang suami tersebut tidak berjimak pada malamnya sebagaimana hadits Anas bin Malik beliau mengatakan :
شَهِدْنَا ابْنَةً لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ فَقَالَ هَلْ فِيكُمْ رَجُلٌ لَمْ يُقَارِفْ اللَّيْلَةَ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ نَعَمْ أَنَا قَالَ فَانْزِلْ قَالَ فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا
Kami menyaksikan anak perempuan Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam, dan Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam duduk di atas pemakaman, dan aku melihat kedua mata beliau mengalirkan air mata, lantas beliau berkata : “Apakah diantara kalian yang tidak berjimak semalam,.? Maka Abu Thalhah berkata : Saya, lalu Nabi berkata : “Turunlah,,” maka ia turun ke makamnya.” [6]
Apabila sang suami tidak memungkinkan untuk menguburkannya maka yang lain diperbolehkan, meskipun orang asing dengan syarat sebagaimana hadits diatas. [7]
Disunnahkan menutupi kubur wanita ketika diturunkan kedalam kuburnya dikarenakan wanita adalah aurot.[8] Ketika menurunkan ke kuburnya mengucapkan “Bismilahi wa ‘ala sunnati Rosulillah,.” atau “ala millati Rosulillahi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam,.”. atau juga dengan bacaan “Bismillahi wa Billahi wa ‘ala millati Rosulillahi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam,.” , ketiga bacaan itu diperintahkan oleh Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana sabda beliau :
إذا وضعتم موتاكم في اللحد ، فقولوا : بسم الله وعلى سنة رسول الله
“Apabila kalian meletakkan orang yang meninggal diantara kamu sekalian diliang lahad maka ucapkanlah ; “Bismilahi wa ‘ala sunnati Rosulillah,.” [9]
demikian juga hadits ini, :
إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ فَقُولُوا بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Apabila kalian meletakkan orang yang meninggal diantara kamu sekalian dikuburnya maka ucapkanlah ; “Bismilahi wa ‘ala millati Rosulillahi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam,” [10]

Juga hadits ini ;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُدْخِلَ الْمَيِّتُ الْقَبْرَ وَقَالَ أَبُو خَالِدٍ مَرَّةً إِذَا وُضِعَ الْمَيِّتُ فِي لَحْدِهِ قَالَ مَرَّةً بِسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَقَالَ مَرَّةً بِسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwasanya beliau Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam apabila mayat dimasukkan kedalam kubur, dan Abu Kholid mengatakannya sekali, apabila mayit diletakkan kedalam lahadnya (kuburnya) beliau (Rosululloh –pent.) mengatakan ; “Bismillahi wa Billahi wa ‘ala millati Rosulillahi,.” sekali, dan beliau mengatakan ; “Bismillahi wa Billahi wa ‘ala sunnati Rosulillahi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam” sekali.” [11]

Mayat diletakkan di lahadnya miring ke barat menghadap qiblat [12], sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud :
..قبلتكم أحياء وأمواتا
“….(Baitul Harom) sebagai qiblat kalian semasa hidup dan mati.” [13]

Disunnahkan juga untuk menaburkan tanah sebanyak tiga kali taburan dengan kedua tangan setelah liang lahad selesai ditutup, ini adalah pendapat Syaikh al-Albani [14], beliau berdalil dengan sebuah hadits yang beliau nyatakan bahwa sanadnya shohih :

عن أبى هريرة: ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى على جنازة , ثم أتى قبر الميت , فحثا عليه من قبل رأسه ثلاثا “.

“Dari Abu Huroiroh ; “Bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mensholati jenazah, kemudian beliau mendatangi kubur mayat tersebut, lantas beliau menaburkan tanah sebanyak tiga kali ke kuburnya dari arah kepala.” [15]

Beberapa hal yang disunnahkan setelah selesai menguburkan :
  1. Disunnahkan meninggikan kubur sejengkal dari tanah, hal ini bertujuan untuk membedakan, sehingga tidak dihinakan. Ini berdasarkan riwayat Hasan dari jabir Rodhiyallohu ‘anhu.

  1. Dibuat berundak seperti punuk, ini berdasarkan riwayat Shohih dari Sufyan ak-Tamar bahwasanya beliau melihat kubur Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam dan kubur Abu Bakar serta Umar seperti punuk.

  1. Memberi tanda dengan batu atau semisalnya, menguburkan orang yang meninggal dari keluarganya, sebagaimana riwayat hasan dari Muthollib bin Abi Wada’ah.

  1. Tidak mentalqin mayit sebagaimana talqin yang dikenal sekarang ini, ini dikarenakan hadits-hadits yang ada tentang hal tersebut tidak shohih, akan tetapi berdiam sejenak mendo’akan mayit agar diberikan keteguhan hati, dan memohonkan ampun baginya, juga memerintahkan orang-orang yang hadir untuk melakukan hal serupa. Ini sebagaimana riwayat :

استغفروا لأخيكم وسلوا له التثبيت فإنه الآن يسأل

“Mohonkanlah ampun untuk saudaramu , dan mintakanlah baginya ketetapan hati dikarenakan pada saat ini dia sedang ditanya.” [16]

Bolehkah mengeluarkan jenazah dari kuburnya untuk suatu keperluan,…?

Ulama berbeda pandapat akan hal ini, diantara kalangan Syafi’iyah mereka berpendapat haramnya memindahkan mayat dari satu negara ke negara lain, kecuali negara tersebut dekat dengan Makkah, Madinah dan Baitul Maqdis. Apabila dekat maka diperbolehkan memindahkan ke salah satu dari tiga negara tersebut dikarenakan kemuliaan dan keutamaannya.[17]

Dan diantara ulama yang membolehkan mengeluarkan jenazah dari kuburnya untuk tujuan yang dibenarkan adalah Syaikh al-Albani, beliau mengatakan :

ويجوز إخراج الميت من القبر لغرض صحيح كما لو دفن قبل غسله وتكفينه ونحو ذلك لحديث جابر بن عبد الله قال :
( صحيح ) (أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ حُفْرَتَهُ فَأَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ فَوَضَعَهُ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَنَفَثَ عَلَيْهِ مِنْ رِيقِهِ وَأَلْبَسَهُ قَمِيصَهُ. [ قال جابر : وصلى عليه ] فَاللَّهُ أَعْلَمُ [وَكَانَ كَسَا عَبَّاسًا قَمِيصًا] )

“Diperbolehkan mengeluarkan mayat dari kuburnya untuk tujuan yang baik, sebagaimana jika dikuburkan sebelum dimandikan atau dikafani, dan hal-hal yang semisal, berdasarkan hadits Jabir bin ‘Abdillah beliau mengatakan : (Shohih) (“Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi ‘Abdulloh bin Ubay setelah dimasukkan ke lubang kuburnya, beliau lantas memerintahkan untuk mengeluarkannya. Maka dikeluarkanlah mayat (‘Abdulloh bin Ubay-pent.) tersebut dan beliau meletakkannya diatas kedua lutut beliau, dan beliau bernafas darinya (mayat-pent.) dengan ludah (mengeluarkan ludah –pent.), dan beliau memakaikan padanya (mayat –pent.) pakaian beliau. [Jabir mengatakan ; dan beliau mensholatkannya] maka Alloh-lah yang lebih Mengelahui [beliau memakaikan pakaian padanya dengan bermuka masam]) [18]

Pendapat kedua-lah yang tampaknya lebih tepat (Wallohu a’lam) dikarenakan dhohir hadits tersebut menunjukkan akan hal itu.

Wallohu ‘aalimul ghoibi was-syahaadah,.



1. Diriwayatkan oleh imam Muslim dalam shohihnya, hadits No. 1567
2. Syarhu an-Nawawi ‘Ala Muslim juz 3 halaman 361 Maktabah Syamilah
3. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Musnad al-Jami’ hadits No. 16442, juga lihat Aunul Ma’bud juz 7 halaman 148 Maktabah Syamilah
4. Syarhu an-Nawawi ‘Ala Muslim juz 3 halaman 361 Maktabah Syamilah
5. Lihat Talkhiisu Ahkamil Jana’iz halaman 62 Maktabah Syamilah
6. Hadits riwayat Bukhori No. 1205 dalam Shohih Bukhori, dan dinyatakan shohih oleh Syaikh al-Albani dalam Talkhiisu Ahkamil Jana’iz
7. Lihat Talkhiisu Ahkamil Jana’iz halaman 62 Maktabah Syamilah
8. Ini menurut Syaikh Fauzan, lihat Mukhtashor Ahkamil Jana’iz halaman 29 (Ed. Terj. Pustaka Arofah)
9. Hadits riwayat Abu Dawud, dan dinyatakan shohih oleh Syaikh al-Albani didalam Shohih Sunan Abu Dawud, hadits No. 3175
10. Hadits riwayat Ahmad No. 4581, dan dinyatakan shohih oleh Syaikh al-Albani. Lihat Lihat Talkhiisu Ahkamil Jana’iz halaman 63 Maktabah Syamilah
11. Hadits riwayat Turmudzi no. 967
12. Lihat Mukhtashor Ahkamil Jana’iz syaikh Fauzan halaman 30 (Ed. Terj. Pustaka Arofah), juga Talkhiisu Ahkamil Jana’iz halaman 63 Maktabah Syamilah
13. Hadits ini juga dinyatakan Hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Dawud, hadits No. 2875
14. Lihat Talkhiisu Ahkamil Jana’iz halaman 63 Maktabah Syamilah
15. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah hadits No. 1565
16. Lihat Talkhiisu Ahkamil Jana’iz halaman 64 Maktabah Syamilah
17. Lihat Fiqhus Sunnah juz I halama 560 Maktabah Syamilah
18. Talkhiisu Ahkamil Jana’iz halaman 68 Maktabah Syamilah

Abu Ruqoyyah
http://aburuqoyyah.blogspot.com/


You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *