Kenalilah Pembatal-Pembatal Tauhid,..! (Bag. 3)

Pembahasan kita sampai pada penjelasan syirik dalam rasa cinta (as syirku fil mahabbah), yang mana, pada dasarnya rasa cinta itu terbagi menjadi tiga macam :

 
Mahabbatun wajibatun (rasa cinta yang harus ada pada setiap orang), yaitu rasa cinta terhadap Alloh dan Rosul-Nya, dan juga rasa cinta terhadap apa yang Alloh sukai berupa ibadah serta hal-hal lainya.
 
Mahabbatun Tobi’iyyatun Mubahatun (rasa cinta bawaan yang di perbolehkan), ini seperti rasa cinta orang tua terhadap anaknya, seseorang kepada sahabatnya dan hartanya. Rasa cinta semacam ini disyaratkan tidak boleh disertai perendahan diri dan pengagungan terhadap sesuatu yang dicintainya. Disyaratkan pula tidak boleh menyamai kecintaan terhadap Alloh dar Rosul-Nya, jika menyamainya maka termasuk rasa cinta yang haram, sebagaimana firman Alloh :
 
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
 
Katakanlah: “jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS : at-Taubah : 24)
 
Mahabbatun syirkiyyatun (Rasa cinta yang termasuk syirik), yaitu mencintai makhluk dengan rasa cinta yang disertai dengan perendahan diri dan pengagungan terhadap makhluk tersebut. Rasa cinta ini merupakan kesyirikan, karena cinta merupakan sebuah ibadah maka memalingkannya terhadap selain Alloh termasuk perbuatan syirik, Alloh berfirman :
 
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
 
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah,.”. (QS : al Baqarah : 165)
 
4. As-Syirku fi ar Roja’ (syirik dalam berharap)
 
Yaitu seseorang berharap kepada makhluk sesuatu diluar kemampuannya atau apa-apa yang tidak dimampuinya. Contohnya berharap kepada manusia agar di berikan keturunan, atau hal-hal yang lain, padahal itu merupakan kekuasaan Alloh, maka itu merupakan syirik akbar.
 
5. As-Syirku fi as shalati wa as sujudi wa arruku’ (syirik dalam shalat, sujud & rukuk)
 
Shalat, sujud, dan ruku’ adalah peribadatan yang hanya boleh di tujukan kepada Alloh semata, maka orang yang shalat, sujud, ruku’, dan atau bahkan membungkuk kepada makhluk karena kecintaan, perendahan diri dan pendekatan diri kepada makhluk tersebut maka dia telah terjatuh dalam syirik akbar sebagaimana ijma’ ahli ilmu. Alloh berfirman :
 
لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
 
Janganlah kalian semua menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, jika Dialah yang kamu sekalian hendak sembah.(QS : Fushshilat : 37)
 
Alloh juga befirman :
 
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ
 
Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya,.” (QS : al An’am : 162-163)
 
Nabi menegur Mu’adz bin Jabal ketika bersujud kepadanya :
 
فلا تفعل فإني لو أمرت شيئا أن يسجد لشيء لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها
 
“Janganlah kamu melakukan hal ini, jika seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain maka aku akan memerintahkan seorang istri agar bersujud kepada suaminya,.” (Shahih Ibnu Hibban hadits no. 4245)
 
6. As-Syirku fi ad-Dzabh (syirik dalam penyembelihan)
 
Penyembelihan pada dasarnya terbagi menjadi empat macam, yaitu :
 
Penyembelihan hewan untuk di makan dagingnya dalam rangka pendekatan diri pada Alloh dan pengagungan kepada-Nya, seperti berkurban, menyembelih untuk haji tamattu’ dan qiran, menyembelih untuk di shadaqahkan dagingnya kepada fakir miskin, dan yang lainnya. Maka kesemua itu disyariatkan dan termasuk ibadah.
 
Penyembelihan hewan untuk makan para tamu, seperti ketika walimatul ‘urs, hal ini pun di syariatkan.
 
Penyembelihan hewan untuk di perjual belikan dagingnya, atau untuk sekedar di makan, seperti ketika menempati tempat tinggal yang baru sebagai ungkapan rasa senang, maka hal ini pun hukumnya mubah, atau diperbolehkan (dengan catatan tidak di sertai dengan perkara-perkara yang di larang di dalamnya).
 
Menyembelih binatang dalam rangka pendekatan diri kepada mahkluk atau pengagungan terhadap sesuatu serta perendahan diri padanya. Seperti menyembelih untuk tempat keramat, jin atau yang lainnya, maka hal ini hukumnya haram dan termasuk syirik akbar. Daging sembelihannya pun hukumnya haram, tidak boleh di makan. Alloh Ta’ala berfirman :
 
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
 
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah,.” (QS : al Kautsar : 2)
 
Nabi juga bersabda :
 
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
 
“Alloh melaknat orang yang menyembelih untuk selain Alloh,.” (HR. Muslim no. 5240, Shahih Ibnu Hibban no. 570)
 
7. As Syirku fi an Nadzari, wa az Zakati wa as Shadaqoh (syirik dalam nadzar, zakat, dan shadaqah)
 
Bernadzar merupakan salah satu dari bentuk ibadah, maka tidak boleh di tujukan kepada selain Alloh. Barang siapa yang bernadzar kepada selain Alloh seperti berkata : “Untuk si fulan, akau bernadzar akan berpuasa satu hari”, ini merupakan kesyirikan,.! Karena dia telah memalingkan ibadah nadzar ini kepada selain Alloh. Demikian juga mengeluarkan zakat dan pemberian hadiah (semacam sesaji) pada kuburan dalam rangka mendekatkan diri pada penghuni kuburan tersebut atau juga dalam rangka mencari barokah dari kuburan itu, maka hal ini pun termasuk syirik akbar.
 
8. As Syirku fi as Shiyami wal hajj wa at Thawaf (syirik dalam berpuasa, haji dan thawaf).
 
Sebagaimana ibadah yang lain, puasa, haji maupun thawaf merupakan hal Alloh Ta’ala, tidak boleh di tujukan kepada selain-Nya. Orang yang melakukannya ditujukan kepada selain Alloh maka dia telah terjerembab ke dalam syirik akbar yang mengeluarkan dia dari Islam.
 
(Merujuk pada kitab “Tahdzibu Tashilil Aqidatil Islamiyah” syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin, Fahrusah Maktabah Malik Fahd al Wathaniyah, cetakan pertama)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *