MAULUD NABI BUKTI CINTA KEPADA NABI,..?

Setiap mukmin yang baik tentunya senantiasa berusaha untuk mencintai Alloh dan Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad –Shalallohu ‘alaihi wa Sallam-. Cinta yang tulus serta melebihi kecintaan kita terhadap apapun yang ada di dunia ini. Cinta kepada Alloh dan Rasul-Nya haruslah kita tempatkan pada posisi yang pertama dari semua kecintaan kita terhadap dunia serta isinya. Barang siapa yang kecintaanya kepada dunia serta isinya melebihi kecintaanya kepada Alloh dan Rasul-Nya maka ia telah terjatuh kepada ‘mahabbah syirkiyah’ (rasa cinta yang termasuk kesyirikan) yang di larang oleh agama serta dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam jika di sertai pengagungan kepada makhluk yang atau benda yang di cintainya tersebut. Orang tersebut termasuk dalam ketegori orang-orang yang di firmankan oleh Alloh Ta’ala dalam ayat :

 
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
 
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah,.”. (QS : al Baqarah : 165)
 
Seseorang yang mencintai Nabi dan taat terhadap ajaranya maka berarti ia juga mencintai Alloh Ta’ala. Hal ini sebagaimana di sabdakan oleh Nabi :
 
مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ
 
“Barang siapa yang taat kepadaku maka berarti ia telah mentaati Alloh, dan barang siapa yang durhaka kepadaku maka berarti ia telah durhaka kepada Alloh,.” (HR : Muttafaqun alaihi)
 
Syaikh As Sa’diy juga mengatakan ; “,.maka barang siapa yang mengikuti Rasul hal itu menunjukkan kebenaran pengakuanya bahwasanya ia mencintai Alloh Ta’ala, dan Alloh-pun mencintai dan mengampuni dosanya, memberikan rahmat kepadanya serta memberikan petunjuk kepadanya dalam diamnya maupun geraknya. Dan bagi orang yang tidak ber-ittiba’ (mengikuti) Rasul maka berarti ia tidak mencintai Alloh, di karenakan rasa cinta kepada Alloh berkonsekwensi pada adanya rasa cinta kepada Nabi. Tidak adanya rasa cinta kepada Nabi maka itu menunjukkan kedustaan pengakuanya (bahwa ia mencintai Alloh Ta’ala),..” [Taisiirul Kariimirrahman 128 Maktabah Syamilah]
 
Banyak kaum Muslimin yang mengapresiasikan rasa cinta mereka (kepada Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wa Sallam dan juga sebagai perwujudan rasa cinta kepada Alloh Ta’ala) dengan merayakan hari di mana beliau di lahirkan, yaitu pada tanggal 12 Rabi’ul Awal, atau biasa kita kenal dengan perayaan Maulud Nabi. Bahkan hingga timbul ungkapan bahwasanya ‘barang siapa yang tidak merayakan Maulud Nabi maka berarti ia tidak mencintai Nabi,..!!’.
 
Nah, bahasan inilah yang hendak kami angkat dalam tulisan kali ini.
 
Maksud Dari Mencintai Nabi –Shallallohu ‘alaihi wa Sallam
 
Sebuah kecintaan itu, meskipun merupakan amalan hati namun ia akan berdampak pada perilaku dan penampilan seseorang. Jika seseorang mencintai dan mengidolakan seseorang maka ia dalam berperilaku dan berpenampilan akan berusaha menyesuaikan dengan orang yang di cintainya tersebut. Al Qadhi ‘Iyaad mengatakan ;
 
قال القاضي عياض: اعلم أن من أحب شيئا آثره وآثر موافقته و إلا لم يكن صادقاً في حبه وكان مدعياً، فالصادق في حب النبي صلى الله عليه وسلم من تظهر علامة ذلك عليه وأولها: الإقتداء به واستعمال سنته وإتباع أقواله وأفعاله وامتثال أوامره واجتناب نواهيه والتأدب بآدابه في عسره ويسره ومنشطه ومكرهه، وشاهد هذا قوله تعالى: “قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله و يغفرلكم ذنوبكم”.
 
“Ketahuilah bahwasanya seseorang yang menyukai sesuatu maka sesuatu itu akan memiliki pengaruh terhadap dirinya dan ia akan berusaha menirunya, jika tidak demikian maka kecintaanya itu hanyalah palsu. Maka orang yang mencintai Nabi –Shalallohu ‘alaihi wa Sallam– adalah orang yang menunjukkan tanda-tanda yang demikian, diantaranya adalah : (1) ia akan mencontoh beliau dan menjalankan sunnah-sunnahnya, (2) mengikuti kata-kata beliau dan meniru perbuatan beliau, (3) serta menjalankan perintah-perintah beliau dan menjauhi laranganya, (4) beradab dengan adab-adab beliau baik dalam keadaan sempit maupun lapang dan dalam keadaan hatinya senang maupun susah. Yang menguatkan hal ini adalah firman Alloh Ta’ala : { Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (QS : Al Imran : 31)} [Mausuu’atu ad Difa’ ‘an ar Rasul, Ali bin Nayif as Syuhud, Maktabah Syamilah]
 
Maka orang yang mencintai Nabi adalah orang yang paling taat terhadap beliau. Dan sebagaimana di katakan oleh Al Qadhi ‘Iyaad bahwa diantara tanda-tanda orang yang mencintai beliau adalah ia akan mencontoh beliau dan menjalankan sunnah-sunnahnya, menjalankan perintah beliau dan menjauhi larangannya, serta beradab dan berakhlak sebagaimana akhlak beliau. Dengan kata lain tolok ukur kecintaanya adalah sejauh mana ia mampu menjalankan perintah beliau, menjauhi larangan serta berperilaku dan berakhlak sebagaimana beliau –Shalallohu ‘alaihi wa Sallam.
 
Orang yang mengaku mencintai Nabi, namun pada kenyataanya ia tidak menjalankan apa yang beliau perintahkan dan menjauhi apa yang beliau larang, serta tidak mau beradab, berakhlak dan berperilaku sebagaimana beliau maka pengakuanya tersebut DUSTA,.!
 
Maka cukuplah kiranya apa yang di katakan oleh Sahl bin Abdillah dalam masalah ini :
 
علامة حب الله حب القرآن ، وعلامة حب القرآن حب النبي صلى الله عليه وسلم ، وعلامة حب النبي صلى الله عليه وسلم حب السنة ، وعلامة حب السنة حب الآخرة ، وعلامة حب الآخرة بُغض الدنيا ، وعلامة بُغض الدنيا ألا يأخذ منها إلا زاداً وبلغة إلى الآخرة
 
“Tanda dari kecintaan terhadap Alloh adalah mencintai Al Qur’an, dan tanda dari kecintaan terhadap Al Qur’an adalah mencintai Nabi –Shalallohu ‘alaihi wa Sallam-, dan tanda dari kecintaan terhadap Nabi –Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- adalah mencintai sunnah, dan tanda dari kecintaan terhadap sunnah adalah mencintai akhirat, dan tanda dari kecintaan terhadap akhirat adalah membenci dunia, dan tanda dari kebencian terhadap dunia adalah tidak mengambilnya kecuali hanya sebagai bekal yang mencukupi menuju akhirat”. [Al Bida’ Al Hauliah hal. 185, risalah Magister dari syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ahmad At Tuwaijiri, Maktabah Syamilah]
 
Orang Yang Tidak Merayakan Maulud Nabi Apakah Apakah Berarti Tidak Mencintai Beliau,..??!
Tidak pernah ada dalil dari Al Qur’an maupun Sunnah yang menyatakan demikian. Para sahabat Nabi adalah orang yang paling mencintai Nabi, namun tidak pernah ada riwayat satupun yang menjelaskan mereka merayakannya, baik pada saat beliau masih hidup maupun setelah meninggalnya beliau. Tidak ada kaitan sama sekali antara merayakan maulud Nabi dengan kecintaan terhadap beliau –Shalallohu ‘alaihi wa Sallam-. Maka ungkapan di atas merupakan ungkapan yang sangat tidak tepat.
 
Jika kita melihat definisi atau pengertian dari orang yang mencintai Nabi adalah orang yang paling taat kepada beliau, maka tiga generasi terbaiklah yang paling mencintai Nabi –Shalallohu ‘alaihi wa Sallam-. Di karenakan merekalah manusia yang paling taat kepada beliau. Sebagaimana pula sabda beliau :
 
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
 
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian masa setelahnya, kemudian masa setelahnya,.” (HR : Bukhari)
 
Orang yang tidak merayakan maulud Nabi tetaplah bisa di katakan sebagai orang yang mencintai Nabi selama ia bisa taat kepada apa yang Nabi ajarkan. Bahkan kegiatan tersebut di kategorikan sebagai kegiatan bid’ah yang di ada-adakan. (lihat kembali tulisan mengenai fatwa Lajnah Daimah atas perkara ini)
 
[Abu Ruqoyyah]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *