Menepis Syubhat Kematian Nabi Isa ‘Alaihi as-Salam

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا
 
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir,..”. (Surat Al Imron, ayat 55)
 
Pendahuluan
 
Permasalahan ini kami angkat lantaran ada sebagian orang salah dalam memaknai ayat ini. Mereka mengedepankan akal dalam memahami ayat ini, sehingga menyelisihi pemahaman para ulama, khususnya para ulama ahli tafsir. Padahal permasalahan ini merupakan permasalahan ghoib yang terjadi sebelum dilahirkannya Nabi r, yang tentu jika kita ingin mengkajinya lebih mendalam haruslah merujuk pada para ulama yang lebih mengetahui akan makna ayat yang mulia ini dan lebih berkompeten di bidangnya tidak hanya megedepankan akal dalam memahami ayat ini, apalagi hanya menafsirkan secara dhohir dari kalimat yang ada.


Diantara penafsiran yang salah akan ayat ini adalah apa yang tertulis pada sebuah artikel yang merupakan tulisan dari PAKDHE NONO (http://pakdenono.com/). Tulisan tersebut tidaklah mutlak kami mengatakan salah semua, namun kami menganggap ada beberapa kalimat yang perlu di kritisi dan di luruskan di karenakan telah melenceng dari apa yang di pahami oleh para pendahulu kita yang shalih, khususnya berkaitan dengan tafsir ayat di atas. Semoga sedikit ulasan ini bisa bermanfaat bagi kita dalam memahami ayat ini dengan benar.
 
Syubhat Yang Terlontar
 
Diantara syubhat yang terlontar dan menyebar di masyarakat adalah sebagaimana ungkapan mereka di bawah ini :
 
Sementara itu kebanyakan umat Islam percaya bahwa beliau kini diangkat dan hidup di langit bersama jasad kasarnya, kalo begitu yang sekarang ada di langit adalah jenazah Nabi lsa, karena berdasarkan ayat di atas beliau di wafatkan dulu baru diangkat. Kalau anda mengatakan bahwa yang di angkat itu Isa yang hidup maka konsekuensinya anda harus berani menghapus poin 1 (maksudnya adalah kata “mutawaffika”) dari ayat di atas, anda sanggup menghapus (mengkoreksi) Firman Allah I?”
 
Juga dikatakan :
 
“Kemudian dalam ayat itu tidak ada kata langit, jadi dari mana asalnya pemahaman bahwa Nabi Isa naik ke langit?
 
Bantahan Syubhat
 
Untuk mengetahui penafsiran yang benar tentu kita harus merujuk pada pendapat para ulama akan hal ini. Alloh berfirman :
 
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
 
“Tanyakanlah kepada ahli ilmu apabila kalian tidak mengetahuinya,” (Surat AnNahl, ayat 43)
 
Sungguh ungkapan-ungkapan subhat sebagaimana diatas merupakan ungkapan yang tidak berdasarkan ilmu, dan hanya berpedoman pada akal semata. Mereka menafsirkan ayat Al Quran hanya berdasarkan dhohir kata dan akal semata, tidak berdasarkan atsar atau merujuk pada pendapat para ulama yang mendapatkan petunjuk. Jika memang agama ini hanyalah berpedoman pada akal semata niscaya pada hadits “mengusap dua sepatu” yang lebih tepat di “usap” adalah bagian bawahnya, bukan bagian atasnya, dikarenakan yang kotor adalah bagian bawah sepatu bukan bagian atas sepatu. Perhatikanlah hadits mengenai hal ini sebagaimana di tulis oleh Syaikh ‘Utsaimin :
 
وَلِهَذَا لَمَّا أَرَادَ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةٍ – رضي الله عنه – أَنْ يَنْزِعَ خُفَيْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، عِنْدَ وُضُوْئِهِ قَالَ لَهُ : ” دَعْهُمَا فَإِنِّيْ أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ ” ثُمَّ مَسَحَ عَلَيْهِمَا . متفق عليه
 
“,.oleh karena itu ketika al-Mughiroh bin Syu’bah t hendak melepas kedua buah sepatu beliau r saat beliau akan berwudhu maka nabi r mengatakan : “Biarkanlah keduanya (sepatu), sesungguhnya aku memasukkan kakiku dalam keadaan suci,”, kemudian beliau mengusap bagian atas keduanya” (HR Bukhory dan Muslim, lihat Majmu’ Fatawa al-‘Utsaimin / 150 / 3 Maktabah Syamilah)
 
Hadits diatas menjelaskan bahwa ketika dalam perjalanan seseorang diperbolehkan berwudhu tanpa harus melepas kedua sepatu, dan cukup mengusap bagian atasnya sebagai ganti membasuh kaki. Padahal, secara akal yang kotor adalah bagian bawah sepatu, akan tetapi mengapa yang di usap adalah bagian atasnya dan bukan bagian bawahnya,..?
 
Ini menunjukkan bahwa akal semata tidaklah bisa kita jadikan sandaran dalam memahami nash Al Quran maupun Hadits.
 
Memang ada beberapa pendapat tentang makna kata “mutawaffika” di kalangan ulama ahli tafsir. Sebagaimana di sebutkan al-Mawardi dalam tafsirnya, beliau mengatakan : “Firman Alloh I : إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ ada empat pendapat ;
 
Pertama adalah maknanya adalah sesungguhnya aku mengambilmu dengan mengangkatmu ke langit tanpa dimatikan, ini adalah pendapat Hasan, Ibnu Jarih dan Ibnu Zaid
 
Kedua maknanya adalah menidurkanmu untuk di angkat ke langit, ini adalah pendapat Robi’
 
Ketiga maknanya adalah mewafatkanmu, ini adalah pendapat Ibnu Abbas t
 
Keempat ini termasuk permasalahan muqoddam dan mu’akhor (yang di dahulukan dan di akhirkan) takdirnya (makna sebenarnya) adalah sesungguhnya Kami mengangkatmu dan mewafatkanmu setelah itu, ini adalah pendapat al-Farra’. “ (Tafsir al-Mawardi / 1 / 234 Maktabah Syamilah)
 
Meskipun diantara pendapat diatas ada yang menafsirkan dengan mewafatkan atau mematikan sebagaimana pendapat Ibnu Abbas t, namun maksudnya bukanlah di wafatkan sebelum di angkat oleh Alloh ke atas langit, akan tetapi diwafatkan setelah berhasil membunuh Dajjal. Ini di kuatkan dengan riwayat yang di keluarkan oleh Ibnu Ishak bin Bisyr dan Ibnu ‘Asakir dari jalan Jauhar dari Dhuhak dari Ibnu Abbas t mengenai firman Alloh I إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ, maknanya adalah mengangkatmu kemudian mewafatkanmu pada akhir zaman. (lihat ad-Dur al-Mantsur / 2 / 347 Maktabah Syamilah)
 
Alasan lain mengenai bathilnya syubhat bahwa Nabi Isa telah wafat adalah penggunaan kata-kata (الوفاة) yang tidak selamanya dapat diartikan “kematian”, ini bisa kita lihat pada firman Alloh Ta’ala :
 
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَار
 
Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari,.” (Surat Al An’am, ayat 60)
 
Pada ayat ini kata (يَتَوَفَّا) tidak diartikan dengan “mematikan” akan tetapi diartikan dengan “menidurkan”, maka memutlakkan kata (الوفاة) dengan hanya diartikan dengan “kematian” tidaklah tepat.
 
Terdapat juga riwayat mursal dari jalan Abdulloh bin Ja’far dari bapaknya, dari ar-Robi’, dari al-Hasan beliau mengatakan : Rosululloh r berkata kepada orang-orang Yahudi :
 
إنَّ عِيسَى لمَْ يَمُتْ، وَإنَّه رَاجِع إلَيْكُمْ قَبْلَ يَوْمِ الْقَيامَةِ”
 
“Sesungguhnya Isa belum mati, dan sesungguhnya dia akan kembali kepada kalian sebelum hari Kiamat nanti tiba,”. (Imam at-Thobari meriwayatkanya dalam tafsir beliau / 6 / 455, dan lihat Tafsir Ibnu Katsir / 2 / 47 Maktabah Syamilah)
 
Dari uraian di atas jelaslah bahwa Nabi Isa masih hidup hingga saat ini.
 
Lantas syubhat lain yang mereka lontarkan adalah perkataan mereka : “Kemudian dalam ayat itu tidak ada kata langit, jadi dari mana asalnya pemahaman bahwa Nabi Isa naik ke langit?
 
Dengan merujuk kembali pada tafsir al-Mawardi diatas kita sudah dapat melihat bathilnya ungkapan syubhat ini. Meskipun tidak di sebutkan kata-kata “langit” pada ayat diatas namun banyak riwayat mengenai tafsir ayat ini yang menerangkan bahwa Nabi Isa di angkat oleh Alloh I ke langit. Dijelaskan pula oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau, beliau mengatakan :
 
“Firman Alloh I {serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir,.”} yaitu dengan mengangkatmu ke langit {dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat.} seperti inilah yang terjadi, sesungguhnya Isa al-Masih ‘Alaihi as-Salam ketika Alloh I telah mengangkat beliau ke langit menjadi terpecah-belahlah pengikut beliau setelah itu, sebagian mereka ada yang tetap meyakini bahwasanya beliau adalah hamba Alloh dan utusan-Nya, sebagiannya lagi berlebih-lebihan dan menjadikannya sebagai anak Alloh, dan yang lain mengatakan dia adalah Alloh.” (Tafsir Ibnu Katsir / 2 / 47 Maktabah Syamilah)
 
Serta masih banyak lagi disebutkan oleh para ulama ahli tafsir mengenai penafsiran dari ayat ini, yaitu diangkatnya Nabi Isa ke atas langit oleh Alloh I. (lihat al-Kasyaaf / az-Zamakhsyari / 1 / 280 Maktabah Syamilah, Bahrul ‘Ulum / as-Samarqandi / 1 / 272 Maktabah Syamilah, Tafsirul Manar / Muhammad Rosyid Ridho / 3 / 260)
 
Wallohu a’lam,..

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *