Tanda Baiknya Iman Seseorang

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا 
لا يَعْنِيهِ”
 
“Dari Abu Huroiroh beliau mengatakan, Rosululloh r bersabda : “Diantara tanda baiknya keimanan seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya”.
 
Takhrij Hadits
 
Hadits ini di keluarkan oleh Imam Turmudzi No. 2317, Ibnu Majah No. 3976, al-Baihaqi dalam Syu’bul Iman No. 4777, Ibnu Hibban No. 229, Baihaqi No. 833, di hasankan oleh Imam Nawawi, dan

di shohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Misykatul Masobih No. 4839.

 
Kedudukan Hadits Ini Menurut Para Ulama
 
Ibnu Daqiq al-‘Ied mengatakan : “Hadits ini merupakan ungkapan yang mencakup banyak makna yang agung pada lafadz yang sedikit”. [Al-Fawa’id ad-Dzahabiyah minal Arba’in an-Nawawiyah halaman 55, Dar Ibnu Khuzaimah]
 
Sedangkan Abu Dawud mengatakan ; “Porosnya Sunnah ada pada empat hadits, 1. hadits “amal-amal itu bergantung pada niatnya,.” 2. hadits “Diantara tanda baiknya keimanan seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya (hadits ini)”, 3. hadits “Yang halal itu jelas, dan yang harom itu jelas,.”, dan 4. hadits “Sesungguhnya Alloh itu baik, tidak menerima kecuai yang baik,.”. [Faidhul Qodir juz 1 halaman 43 Maktabah Syamilah]
 
Ibnu Rojab al-Hambali juga mengatakan ; “Hadits ini merupakan dasar yang agung dari dasar-dasar adab, sungguh telah menceritakan Imam Abu ‘Amr bin Sholah dari Abu Muhammad bin Abi Zaid Imamul Malikiyah pada zamannya, bahwasannya beliau mengatakan ; “Kumpulan adab-adab kebaikan di cabangkan dari empat hadits,..”, beliau lantas menyebutkannya salah satunya adalah hadits ini. [Al-Fawa’id ad-Dzahabiyah minal Arba’in an-Nawawiyah halaman 55, Dar Ibnu Khuzaimah]
 
Penjelasan hadits
 
Kata-kata (مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ) maksudnya adalah “yang termasuk bagian dari kebaikan islamnya seseorang dan kesempurnaan keimanannya”. Sedangkan kata-kata (تَرْكُهُ مَا لا يَعْنِيهِ) Ibnu Rojab al-Hambali mengatakan dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wa Hikam pada syaroh hadits ini : “Makna dari hadits ini bahwasannya yang termasuk baiknya keimanan seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya baik itu berupa perkataan ataupun perbuatan dan menguranginya untuk apa-apa yang bermanfaat baginya baik itu berupa perkataan ataupun perbuatan. Dan makna (يَعْنِيهِ) adalah bahwasannya perhatian seseorang itu berkaitan dengan perkara yang bermanfaat itu, dan perkara itu terjadi dari maksud dan keinginan dari seseorang itu sendiri, dan (الْعِنَايَةُ) adalah perhatian yang sangat terhadap sesuatu,.” [Tuhfatul Ahwadzi juz 6 halaman 102 Maktabah Syamilah]
 
Kita perhatikan penjelasan diatas, bahwa yang namanya hal yang tidak bermanfaat itu tidak selamannya hanya bersifat perbuatan, akan tetapi bisa juga bersifat perkataan, seperti berkata-kata kotor dan sia-sia, menggunjing, berdiskusi mengenai hal yang tidak bermanfaat,ataupun yang lainnya. Sedangkan yang sifatnya perbuatan banyak sekali contohnya, seperti berkongkow-kongkow di jalan (nongkrong), bergadang sampai tengah malam, main game hingga lupa waktu dan yang lainnya. Yang jelas selama perbuatan itu tidak dapat memberikan manfaat pada pelakunya di dunia ataupun di akhirat, maka hal itu tercakup pada hadits ini.
 
Amat disayangkan dewasa ini kemajuan teknologi disamping membawa kebaikan ternyata juga membawa dampak yang tidak baik. Banyak orang yang menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti menghabiskan waktunya di depan komputer atau pergi ke warnet hanya untuk chatting atau meng-up date status mereka di facebook. Tak jarang seharian mereka betah melakukannya, dan hampir sebagian besar waktu mereka di gunakan untuk hal-hal tersebut. Na’udzubillahi min dzalik (kita berlindung kepada Alloh dari hal yang demikian), ini merupakan hal yang tidak bermanfaat dan sia-sia,.! Waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk menuntut ilmu syar’i, menghadiri majelis-majelis ilmu, serta hal-hal bermanfaat lainnya mereka habiskan untuk hal yang sia-sia.
 
Kesempurnaan iman seseorang itu berkonsekwensi pada meninggalkan semua apa-apa yang tidak bermanfaat baginya, dan hal-hal yang tidak bermanfaat itu bisa berupa perbuatan-perbuatan harom, syubhat dan makruh juga berlebih-lebihan pada hal-hal yang mubah (diperbolehkan) yang sebenarnya seseorang itu tidak memerlukannya. Kesemua hal ini pada dasarnya seorang mukmin itu tidaklah memerlukannya apabila keimanannya telah sempurna. Dan otomatis jika keimanan seseorang itu baik maka dia akan dengan sendirinya menjauhi perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi dirinya di dunia dan di akhirat, begitu pula sebaliknya, apabila keimanan seseorang itu buruk, maka dengan sendirinya pula dia akan menjauhi perbuatan-perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya di dunia dan di akhirat.
 
Pelajaran Hadits
 
  • Bahwasannya keislaman seseorang itu berbeda-beda, ada yang keislamanya baik, ada pula yang buruk, ini sebagaimana sabda Nabi ; “Diantara tanda baiknya keimanan seseorang,.”. [Al-Fawa’id ad-Dzahabiyah minal Arba’in an-Nawawiyah halaman 56, Dar Ibnu Khuzaimah]
  • Bahwasannya dari buruknya keislaman seseorang adalah mengambil apa-apa yang tidak bermanfaat baginya serta menyibukkan diri dengannya.
  • Seyogyannya bagi manusia itu untuk meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya, tidak pada perkara agamanya ataupun dunianya, dikarenakan hal tersebut akan lebih menjaga waktunya, dan lebih menyelamatkan agamanya. Apabila manusia itu malakukan perkara-perkara yang tidak bermanfaat maka hal itu akan membuatnya letih dan capek sehingga malas ntuk melakukan perkara-perkara yang bermanfaat baginya, dan sebaliknya jika dia bisa menjauhi perkara-perkara yang tidak bermanfaat tersebut maka hal itu akan lebih bisa membuat dia tenang dan santai serta akan lebih membuat dia bersemangat dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat. [Lihat Al-Fawa’id ad-Dzahabiyah minal Arba’in an-Nawawiyah halaman 56, Dar Ibnu Khuzaimah]
  • Dorongan untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat untuknya, yaitu hal-hal yang dengannya seseorang itu memperoleh syurga, berupa Islam, Iman, dan Ihsan, serta hal-hal penting yang berhubungan dengan kehidupanya di dunia, maka sesungguhnya orang yang menyibukkan dirinya dengan hal-hal ini akan selamat dari perselisihan dan semua keburukan.
  • Hendaknya seseorang itu tidak mengabaikan hal-hal yang bermanfaat baginya, yaitu hal-hal penting yang berkaitan dengan agamanya dan dunianya, bahkan seyogyanya dia memperhatikan hal-hal tersebut serta menyibukkan diri dengannya.
Wallohu A’lamu bisshowab,.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *