Ini lho Dalil Bertawasul,..! (Telaah Kritis)

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِىُّ قَالَ حَدَّثَنِى أَبِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ – رضى الله
عنه – كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا . قَالَ فَيُسْقَوْنَ

“Telah mengatakan kepada kami Al Hasan Ibnu Muhammad, beliau mengatakan telah mengatakan kepada kami Muhammad Ibnu Abdillah Al Anshari ia mengatakan telah mengatakan kepadaku bapakku, yaitu Abdullah Ibnu Al Mutsanna dari Tsumamah Ibnu Abdillah Ibnu Anas dari Anas bahwasanya Umar bin Khatab semoga -Alloh maridhai beliau- apabila musim kemarau menimpa mereka beliau meminta hujan melalui perantaraan Al Abbas bin Abdul Muthalib. Beliau mengatakan ; “Ya Allah, kami telah bertawasul kepada-Mu melalui Nabi kami dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul melalui Paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami..”. Kemudian diturunkanlah hujan kepada mereka.
Hadits di atas merupakan hadits mauquf, di keluarkan oleh Imam Bukhari pada kitab Al Jumu’ah nomor 954, dan pada kitab Al Manakib nomor 3434. Demikian pula Ibnu Khuzaimah mengeluarkannya dari Muhammad bin Yahya. Perbedaanya Imam Bukhari mengambil dari Al Hasan Ibnu Muhammad, sedangkan Ibu Khuzaimah mengambil dari Muhammad bin Yahya. Keduanya mengambil dari Muhammad Ibnu Abdillah Al Anshari dan seterusnya sampai pada Anas bin Malik.

Berdalil dengan hadits yang shahih di atas lantas banyak manusia yang menganggap bolehnya bertawasul kepada manusia, baik masih hidup ataupun sudah meninggal. Dan aqidah semacam ini banyak sekali tersebar di masyarakat kita. Oleh karenanya tak jarang kita temukan orang-orang berbondong-bondong mendatangi kuburan yang di anggap milik orang shalih kemudian mereka bertawasul dengan perantaraan orang shalih yang sudah mati tersebut, berdoa di sana dan memohon di sana. Lantas bisakah di katakan benar pendalilan tersebut,.?
Kami mencoba mengajak pembaca sekalian untuk mencermati hadits di atas dan memahaminya dengan pemahaman yang benar sebagaimana pemahaman para pendahulu kita, yaitu sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Hal pertama yang harus kita cermati adalah perkataan Umar diatas, yang mana terdapat satu kata yang mahdzuf (terbuang), ketika beliau mengatakan :
إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا
“,.kami telah bertawasul kepada-Mu melalui Nabi kami dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul melalui Paman Nabi kami,.”
Kata yang terbuang terletak pada kalimat ; (بِنَبِيِّنَا) “melalui Nabi kami” dan ; (بِعَمِّ نَبِيِّنَا) “melalui paman Nabi kami”. Adapun susunan atau taqdir  yang sebenarnya ada dua kemungkinan, yaitu :
(إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ ب ( جاه ) بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ ب ( جاه ) َعمِّ نَبِيِّنَا)
“,.kami telah bertawasul kepada-Mu melalui (kemuliaan) Nabi kami dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul melalui (kemuliaan) Paman Nabi kami,.”
Kemungkinan yang ke dua adalah :
 
(إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ ب (دعاء ) بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ ب (دعاء ) َعمِّ نَبِيِّنَا)
“,.kami telah bertawasul kepada-Mu melalui (doa) Nabi kami dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul melalui (doa) Paman Nabi kami,.”
Manakah diantara dua kemungkinan tersebut yang benar,.? Tentunya kita harus kembali melihat Al Qur’an dan As Sunnah agar jelas bagi kita bagaimana tata cara bertawasul yang benar yang di kerjakan oleh shahabat melalui Nabi –Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam-.
 
Sebagai contoh apakah dahulu kala ketika para sahabat di landa kekeringan kemudian mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan kemuliaan Nabi mereka yaitu Nabi Muhammad, semisal dengan doa ; “Ya Alloh, dengan kemuliaan Nabimu dan oleh karena Engkau telah memuliakanya dan memberikan kedudukan yang mulia baginya di sisi-Mu maka turunkanlah hujan kepada kami,.” Ataukah dengan mereka mendatangi Nabi –Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam– kemudian meminta beliau mendoakan bagi mereka agar di turunkan hujan,..??
Untuk kemungkinan yang pertama maka tidak kita dapatkan satupun riwayat yang menceritakan mengenai shahabat yang berdoa kepada Alloh dengan bertawasul kepada kemuliaan atau kehormatan NabiShalallohu ‘Alaihi wa Sallam-. Kemungkinan yang ke dua lah yang benar dan sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, yaitu para sahabat bertawasul dengan doa Nabi Muhammad –Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam-.
 
Maka kita dapatkan firman Alloh Ta’ala :
 
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
 
“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS : An-Nisaa : 64)
 
Kita dapatkan pula perbuatan shahabat tatkala Rasululloh masih hidup, mereka bertawasul melalui beliau –Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam– sebagaimana telah di ceritakan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah –semoga Alloh meridhai beliau– ;
 
شَكَا النَّاسُ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُحُوطَ الْمَطَرِ فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ فَوُضِعَ لَهُ فِي الْمُصَلَّى وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ قَالَتْ عَائِشَةُ فَخَرَجَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدْبَ دِيَارِكُمْ وَاسْتِئْخَارَ الْمَطَرِ عَنْ إِبَّانِ زَمَانِهِ عَنْكُمْ وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَدْعُوهُ وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ فِي الرَّفْعِ حَتَّى بَدَا بَيَاضُ إِبِطَيْهِ ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَقَلَبَ أَوْ حَوَّلَ رِدَاءَهُ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَنَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَأَنْشَأَ اللَّهُ سَحَابَةً فَرَعَدَتْ وَبَرَقَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ بِإِذْنِ اللَّهِ فَلَمْ يَأْتِ مَسْجِدَهُ حَتَّى سَالَتْ السُّيُولُ فَلَمَّا رَأَى سُرْعَتَهُمْ إِلَى الْكِنِّ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
Orang-orang mengadu kepada Rasululloh Shallallohu ‘alaihi Wasallam tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”. Aisyah lalu berkata, “Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau Shallallohu ‘alaihi wasallam bertakbir dan memuji Allah Azza wa Jalla, lalu bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Alloh Azza Wa Jalla telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian” Kemudian beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Alloh, Engkau adalah Alloh, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan.” Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Alloh mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Alloh. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Aku bersaksi bahwa Alloh adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya. (HR : Abu Dawud)
Nash-nash di atas menunjukkan bahwasanya para sahabat ketika bertawasul melalui Nabi Shalallohu ‘alaihi wa Sallam adalah dengan doa beliau, bukan kemuliaan atau kehormatan beliau, dan itu di lakukan tatkala beliau masih hidup, bukan setelah beliau meninggal. Demikian pula hadits di atas yang menceritakan bahwa Umar bertawasul melalui paman Nabi yang bernama Al Abbas adalah di lakukan ketika beliau masih hidup, bukan setelah meninggal, serta dengan doa beliau, bukan dengan kemuliaanya. Dan kenyataanya tidak ada seorangpun dari kalangan shahabat bertawasul melalui Nabi setelah Nabi meninggal.
Maka dari itu taqdir yang benar dari hadits di atas adalah ; “,.kami telah bertawasul kepada-Mu melalui (doa) Nabi kami dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul melalui (doa) Paman Nabi kami,.”.
Oleh karenanya pendalilan dengan hadits di atas sebagai pembenaran akan perbuatan orang yang bertawasul melalui kehormatan seseorang, yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal adalah batil, dan menyalahi nash-nash syar’i. Yang benar dan di perbolehkan adalah bertawasul dengan doanya, dan itu di lakukan ketika seseorang itu masih hidup, dan bukan setelah meninggal. Dan kenyataanya tidak ada seorangpun dari kalangan shahabat bertawasul melalui Nabi setelah Nabi wafat.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *