Kenalilah Pembatal-Pembatal Tauhid,.! (Bag. 4)

3. As-Syirku Fil Asma’ wa as-Sifat (Syirik dalam Asma’ wa Sifat Alloh)
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa yang termasuk keimanan kepada Alloh adalah : “Keimanan terhadap apa yang Alloh Ta’ala sifati mengenai Dirinya sendiri sebagaimana dalam kitab-Nya dan yang di sifati Rosululloh Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam di dalam Sunnah.”
 
Yang menjadi dasar dari hal ini adalah firman Alloh Ta’ala :
 
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ  وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
 
“,.Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. (QS : as-Syuura : 11)
 
Maka tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang serupa dengan dzat-Nya, dengan nama dan Sifat-Nya. Penetapan sifat “as-Sami’ wal Bashir” ini di dasarkan pada asas “laisa kamitslihi syai’un”, demikian juga seluruh sifat yang ada pada ayat lain di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah yang shahih. Itu semua berdasarkan pada kaidah “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”.
 
Perlakuan yang tepat dalam hal ini (keimanan terhadap Asma’ wa Sifat Alloh) adalah sebagaimana yang di katakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu mensifati Alloh sebagaimana Alloh sendiri mensifati Dirinya di dalam Al Qur’an, dan yang di sebutkan Rosululloh Shalallohu’ Alaihi wa Sallam di dalam Sunnah tanpa ta’thil, tahrif dan tamtsil (peniadaan, penyimpangan dan permisalan makna). Sungguh tepatlah perkataan Imam Malik berkaitan dengan firman Alloh Ta’ala :
 
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
 
(Yaitu) Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas ‘Arsy(QS : Thaahaa : 5)
 
beliau mengatakan :
 
الإستواء معلوم و الكيف مجهول و السؤال عنه بدعة
 
“Mengenai al-Istiwa (bersemayam) itu di ketahui maknanya, dan tentang bagaimana hakekatnya tidaklah di ketahui, sedangkan bertanya mengenainya merupakan bid’ah”
 
Seperti inilah kita mengimaninya tanpa harus kita serupakan dengan sifat makhluk.
 
Adapun pengertian dari kesyirikan di dalam Asma’ wa Sifat Alloh adalah menjadikan bagi Alloh ada yang serupa dalam nama dan sifat-Nya, atau mensifati Alloh Ta’ala dengan salah satu dari sifat-sifat makhluk. Maka siapapun dia yang memberikan nama atau julukan kepada selain Alloh dengan salah satu dari nama-Nya dengan di sertai keyakinan bahwa makhluk tersebut mempunyai sifat sebagaimana sifat ini yang hanya dimiliki oleh Alloh Ta’ala, atau mensifatinya dengan sifat yang hanya dimiliki oleh Alloh maka orang tersebut telah melakukan kesyirikan dalam Asma’ dan Sifat Alloh. Demikian juga kebalikanya, yaitu orang yang mensifati Alloh Ta’ala dengan salah satu dari sifat makhluk-Nya maka dia juga berarti telah melakukan kesyirikan dalam Sifat Alloh.
 
Termasuk didalamnya kesyirikan dengan i’tiqad (keyakinan) bahwa selain Alloh ada yang mengetahui perkara ghaib, (yaitu setiap perkara yang makhluk tidak mampu mengetahuinya dengan salah satu dari panca indra) padahal Alloh Ta’ala berfirman :
 
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ 
 
Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”,.” (QS : an-Naml : 65)
 
Maksudnya tidak ada satu pun dari penghuni langit dan bumi mengetahui perkara ghaib  kecuali hanya Alloh semata, meskipun dia dari kalangan Malaikat, Nabi atau pun orang shaleh. Karena hanya di sisi Alloh lah pengetahuan tentang perkara ghaib. Alloh juga berfirman dalam ayat yang lain :
 
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ 
 
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,.” (QS : al-An’am : 59)
 
Maka jika ada seseorang yang mengaku mengetahui perkara ghaib berarti dia telah terjatuh dalam syirik akbar, karena di dalam pengakuan tersebut terdapat tindakan persekutuan bagi Alloh.
 
Contoh-contoh gambaran kesyirikan semacam ini diantaranya :
 
        Keyakinan bahwa para Nabi, Wali atau orang shaleh mengetahui perkara yang ghaib. Ini sebagaimana keyakinan orang-orang Shufi dan Rafidhah yang meyakini sebagian dari syaikh mereka mengetahui perkara-perkara ghaib. Mereka juga ber-istighatsah (meminta pertolongan) kepada para Nabi, dan orang-orang shaleh yang sudah meninggal, dan yang masih hidup padahal mereka berada di tempat yang jauh. Mereka beranggapan bahwa semua orang yang mereka berdoa kepadanya itu mengetahui keadaan mereka, dan mendengar perkataannya. Ini merupakan kesyirikan sebab mereka menjadikan salah satu sifat Alloh yaitu “mengetahui yang ghaib”, dan “mengabulkan do’a” diperuntukkan untuk selain Alloh, dalam hal ini diperuntukkan kepada syaikh mereka.
 
       Al-Kahanah (perdukunan atau peramal). Dukun, Peramal atau “orang pintar” dalam masyarakat kita di maknakan orang yang dapat mengetahui perkara ghaib, merubah nasib atau keberuntungan melalui berbagai macam wasilah, seperti dengan kerikil, huruf-huruf Hijaiyah, jampi-jampi ataupun dengan membaca kartu. Orang yang meyakini bahwa Dukun, Peramal maupun “orang pintar” tersebut dapat melakukan hal-hal sebagaimana yang disebutkan diatas maka dia pun telah menjadikan sifat-sifat Alloh di peruntukkan bagi makhluk, artinya dia telah terjatuh ke dalam syirik akbar. Ini juga di pertegas lewat sabda Nabi Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam :
 
من أتى عرافاً أو كاهناً فصدقه بما يقول، فقد كفر بما أنزل على محمد
 
“Barang siapa mendatangi Dukun atau Peramal, kemudian membenarkan apa yang di katakannya maka dia telah ingkar (kafir) terhadap apa yang di turunkan kepada Nabi Muhammad.” (HR. Ahmad)
Dalam riwayat lain di katakan :
 
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
 
“Barang siapa yang mendatangi Dukun atau Peramal kemudian bertanya mengenai suatu hal padanya maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari” (HR : Muslim no.5957)
 
     At-Tanjim atau ilmu perbintangan. Maksudnya adalah melihat keadaan bintang yang berada di atas langit sebagai pedoman atau petunjuk untuk peristiwa-peristiwa yang akan datang, seperti mengenai keberuntungan seseorang, kerugian, kekalahan dan lain sebagainya. Tak di ragukan lagi ini merupakan penisbatan dari sifat Alloh Ta’ala kepada makhluk, yaitu mengetahui perkara yang akan datang yang mana perkara tersebut merupakan perkara ghaib. Termasuk juga di dalamnya mempercayai ramalan perbintangan, seperti misalkan “si Fulan dilahirkan di bintang ini, maka nanti hidupnya akan seperti ini,”. Itu semua merupakan kesyirikan karena menjadikan bintang sebagai pedoman untuk mengetahui perkara ghaib, sedangkan pengakuan mengetahui perkara ghaib merupakan kesyirikan yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama.

(Merujuk pada Kitab Tahdzibu Tashilil Aqidatil Islamiyah Syaikh Muhammad bin Abdulloh al Jibrin, Fahrusah Maktabah al-Malik Fahd al-Wataniyah cetakan pertama 1425 H dengan beberapa tambahan dari penulis) (AR)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *