Kenalilah Pembatal-Pembatal Tauhid,.! (Bag. 6 Terakhir)

Nifaq Akbar (nifaq I’tiqodi)

Poin utama ketiga atau yang terakhir merupakan pembatal tauhid adalah Nifaq Akbar. Adapun nifaq secara bahasa pengertiannya adalah : “menyembunyikan sesuatu dan menyamarkannya.”

Secara istilah adalah : seseorang menunjukkan keimanannya terhadap Alloh, malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari akhir akan tetapi bersamaan dengan itu dia menyembunyikan perbuatan-perbuatan yang bisa membatalkan keimanan tersebut, sebagian atau seluruhnya.


Nifaq Akbar ini bisa terjadi jika seseorang mengaku serta menampakkan bahwasannya dia seorang Muslim, dan boleh jadi dia pun beramal di hadapan mereka dengan ibadah berupa shalat, puasa, haji, dan lain sebagainya akan tetapi hatinya tidak mengimani ke Esaan Alloh, sifat Rububiyah atau pun UluhiyahNya, wal ‘iyadzu billah. Atau dia tidak beriman terhadap risalah Nabi Muhamad serta membencinya, tidak beriman terhadap kitab-kitab Alloh, adzab kubur, ataupun hari kebangkitan. Atau dia meyakini bahwa agama Nasrani dan Yahudi atau pun selain keduanya benar atau lebih baik dari pada agama Islam, atau meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang tidak sempurna, tidak cocok di terapkan di zaman ini ataupun yang lainnya. Kesemua hal tersebut bisa mengakibatkan pelakunya terjatuh dalam nifaq akbar.

Mengenai hukum nifaq akbar sama dengan hukum syirik akbar atau kufur akbar, yaitu kafir dengan kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Ini di karenakan pada dasarnya orang-orang munafiq yang kemunafikanya sampai pada taraf nifaq akbar hakikatnya adalah orang-orang kafir, bahkan termasuk orang-orang kafir yang paling buruk keadaannya. Mengapa demikian ? dikarenakan selain mereka kufur, mereka menghiasi kekufurannya dengan kebohongan dan tipu muslihat. Mereka juga lebih berbahaya dari pada orang kafir biasa, karena mereka menyusup di tengah-tengah kaum Muslimin, berpenampilan layaknya seorang Muslim, mengaku sebagai bagian kaum Muslimin, akan tetapi hati mereka hakikatnya mendustakan Islam, membencinya bahkan memeranginya. Oleh sebab itulah Alloh memberikan ancaman siksa yang pedih dengan meletakkan mereka di bagian paling bawah Neraka, sebagaimana firmanNya :

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS : an Nisaa :145)
Berikut ini akan kami berikan beberapa contoh perbuatan-perbuatan orang munafik yang menunjukkan kekufuran mereka. Perbuatan-perbuatan ini sebagaimana yang Alloh jelaskan di dalam surat at Taubah dan surat-surat lainnya yang di dalamnya Alloh Ta’ala menyingkapkan kejelekan orang-orang munafiq dengan menjelaskan amalan-amalan kufur mereka. Diantara amalan tersebut adalah :
  1. Mencemooh Alloh, Nabi, dan Alqur’an. Alloh berfirman :
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS : at Taubah 55-56)

Itulah diantara kebiasaan mereka, yakni mencemooh atau berolok-olok dengan Alloh, Nabi, maupun Al Qur’an. Contoh nyata perbuatan ini ialah seseorang mengatakan orang yang memakai celana di atas mata kaki ‘kebanjiran’, atau orang yang memanjangkan jenggotnya semisal ‘kambing’,.na’idzubillah. Padahal kedua hal itu merupakan bagian dari syariat yang telah Alloh tetapkan melalui lisan Nabi kita Muhammad. Ini merupakan istihza’ (cemoohan atau olok-olok) yang bisa membawa pada kekufuran.

  1. Berhukum dengan hukum buatan orang kafir, dan bersemangat di dalam menerapkan hukum tersebut dari pada hukum Alloh. Alloh berfirman :
 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”(QS : an Nisaa : 60)

  1. Memberikan pertolongan kepada orang-orang kafir di dalam memerangi kaum Muslimin. Ini karena pada dasarnya orang munafik adalah orang kafir, maka tentu mereka akan menolong saudaranya yakni orang kafir dalam memerangi kaum Muslimin. Ini sebagaimana di firmankan Alloh di dalam surat al Maidah ayat 51-52.
  2. Merasa senang apabila kaum Muslimin di timpa kekalahan atau keburukan dan merasa sedih apabila kaum Muslimin mendapatkan kebaikan. Ini bisa kita lihat di dalam firman Alloh dalam surat  Al ‘Imran ayat 119-120.
  3. Mencela ulama dan orang-orang Mukmin karena kebencian mereka. Alloh berfirman :
“Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” (QS : al Baqarah : 13)

Dan juga :

 “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukareladan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS : at Taubah : 79)

Selain itu Alloh Ta’ala juga menyebutkan ciri-ciri mereka di dalam Al Qur’an, diantaranya :

      Sedikitnya ketaatan, serta merasa berat dan malas di dalam menjalankan ibadah-ibadah yang sifatnya wajib. Sebagaimana firman Alloh di surat an Nisaa ayat 142.

       Takut, cemas dan gelisah. Sifat inilah yang membuat mereka menyembunyikan kekufuranya dan menampakkan keislaman. Ini disebabkan mereka takut ancaman hukumannya yaitu halalnya darah dan harta mereka. Alloh berfirman dalam surat at Taubah ayat 56-57 mengenai hal ini.

          Bodoh dan lemah akalnya, ini sebagaimana di sebutkan oleh Alloh pada surat al Baqarah ayat 13.

   Tidak punya pendirian dan berubah-ubah, layaknya bunglon yang berubah warna kulitnya tergantung panas matahari, atau domba buta yang berada diantara dua domba lainnya, dia akan bingung domba mana yang akan dia ikuti. Seperti inilah perumpamaan dari orang munafiq. Alloh Ta’ala berfirman :

 Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.”(QS : al Baqarah : 14)

Alloh juga berfirman :

 “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS : an Nisaa : 143)

          Sedikitnya rasa malu dan lancang mulutnya. Bisa kita lihat dalam firman Alloh Ta’ala pada surat al Ahzab ayat 18-19.

Semoga Alloh Ta’ala menjauhkan diri kita dari sifat-sifat sebagaimana di atas.Wallohu A’lam.

(Merujuk pada Kitab Tahdzibu Tashilil Aqidatil Islamiyah Syaikh Muhammad bin Abdulloh al Jibrin, Fahrusah Maktabah al-Malik Fahd al-Wataniyah cetakan pertama 1425 H dengan beberapa tambahan dari penulis)

You may also like...

3 Responses

  1. insidewinme says:

    Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga

    • Abu Ruqoyyah says:

      Ketika Rasulullah memulai dakwah, beliau tidaklah memulai dengan menegakkan khilafah, namun beliau memulainya dengan menegakkan kalimat Tauhid. Dan inilah poros dakwah para Nabi, termasuk seluruh Nabi dan Rasul yang di utus sebelum beliau.

    • apep ependi says:

      bener gan,<br /><br />kuat dahulu TAUHID dan AKIDAH baru buat khilafah, sedangkan mereka yang selalu menginginkan khilfah selalu berfaham haraqoh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *