Hadits Shahih Dan Dhaif Seputar Nisfu Sya’ban

Perayaan malam-malam nisfu sya’ban sudah tidak asing bagi masyarakat di negeri ini khususnya. Mereka biasanya merayakannya dengan acara simakan (menyimak) Al Qur’an yang di baca oleh para huffadz  di setiap mushalla atau masjid-masjid di sekitar tempat tinggal mereka. Bahkan di Irak perayaan nisfu sya’ban lebih antusias lagi, sebagai contoh di sana setiap kali memasuki malam nisfu sya’ban sekitar 125 ribu peziarah memasuki karbala (tanah yang mereka anggap suci, bahkan melebihi dua tanah Haram) [1] untuk merayakanya. Hal itu tak lepas dari keberadaan banyaknya riwayat yang menceritakan mengenai keutamaanya. Namun perlu kita cermati kembali riwayat-riwayat yang ada apakah kesemuanya shahih, atau hanya sebagiannya yang shahih, atau bahkan kesemuanya dhaif,..? Mengingat hanyalah hadits-hadits yang bisa di terima sajalah (shahih) yang dapat di jadikan dalil untuk melakukannya. Adapun hadits yang dhaif maka tidak boleh kita jadikan sandaran untuk melakukan amalan ibadah, karena ibadah itu tauqifiyyah.

Oleh karenanya pada kesempatan kali ini saya mencoba mengajak pembaca sekalian untuk sama-sama mencermati hadits-hadits tersebut dan mengelompokkanya, manakah hadits yang shahih dan manakah yang dhaif khususnya berkaitan dengan nisfu sya’ban.


Hadits Dhaif Seputar Nisfu Sya’ban

  1. Hadits pertama

خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة أول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان وليلة الجمعة وليلة الفطر وليلة النحر

“Ada lima malam yang doa seorang hamba tidak akan tertolak, yaitu pada malam pertama bulan Rajab, malam nisfu sya’ban, malam jum’ah, malam Ied Fitri dan malam Nahr (Ied Adha).”

Hadits di atas bersumber dari Abu Umamah dan juga Ibnu Umar, di keluarkan oleh Ibnu Asakir (10/408), Abdur Rozaq (4/317 no. 7927) dan Baihaqi dalam Syuabul Iman (3/342 no. 3713) [2]

Syaikh Al Albani di dalam Silsilah ad Dhaifah al Maudhuah (3/649) bahwa hadits ini maudhu’ (palsu).

  1. Hadits ke dua

إذا كان ليلةُ النصفِ من شعبانَ فقومُوا ليلتَها وصومُوا يومَها فإنَّ اللهَ ينزلُ فيها لغروبِ الشمسِ إلى سماءِ الدنيا فيقولُ ألا مستغفرٌ فأغفرَ له ألا مسترزقٌ فأرزقَه ألا مُبْتلًى فأعافيَه ألا سائلٌ فأعطيَه ألا كذا ألا كذا حتى يطلعَ الفجرُ

“Ketika malam nisfu sya’ban, tegakkanlah malamnya untuk beribadah, berpuasalah di siang harinya, sesungguhnya Alloh turun pada malam itu ke langit dunia semenjak matahari mulai terbenam kemudian berfirman : “Adakah orang yang meminta ampun maka Aku akan mengampuninya, adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberikanya rizki, adakah orang yang terkena musibah maka Aku akan menolongnya, adakah orang yang meminta maka Aku akan memberinya, adakah orang yang begini,..begitu,..” demikian hinga terbit fajar.”

Hadits di atas di keluarkan oleh Ibnu Majah (1/444 no. 1388), Al Bushiri dalam kitabnya (2/10) mengatakan : “Dalam sanadnya terdapat Ibnu Abi Sabrah, Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan : “Ia memalsukan hadits”.  Dan Al Baihaqi mengeluarkannya dalam Syu’abul Iman (3/378 no. 3822), juga di keluarkan oleh Ad Dailami (1/259 no. 1007). [3]

Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif al Jami’ as Saghir wa Ziyadatuhu bahwa hadits ini maudhu’ (palsu).

  1. Hadits ke tiga
يا عائشة ! أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله ؟ بل أتاني جبريل فقال : هذه الليلة ليلة النصف من شعبان ، ولله فيها عتقاء من النار بعدد شعور غنم كلب ، لا ينظر الله فيها إلى مشرك ولا إلى مشاحن ولا إلى قاطع رحم ولا إلى مسبل ولا إلى عاق لوالديه ولا إلى مدمن خمر

“Wahai Aisyah,.apakah engkau takut Alloh dan Rasul-Nya akan berbuat dhalim kepadamu,.? Bahkan Jibril telah datang kepadaku dan mengatakan : ‘Malam ini merupakan malam nisfu sya’ban, di dalamnya Alloh membebaskan manusia dari neraka sebanyak bulu domba bani Kalb. Alloh tidak melihat pada malam itu kepada orang musyrik, tidak pula kepada orang yang suka memusuhi, pemutus hubungan silaturrahim, orang yang musbil (memanjangkan pakaian melebihi mata kaki), orang yang durhaka kepada kedua orang tua, serta tidak pula kepada pecandu khamr”.

Hadits di atas Al Baihaqi mengeluarkanya dalam Syu’abul Iman (3/380 no. 3826), beliau mendhaifkan bahwa hadits itu bersumber dari Aisyah. Juga di riwayatkan oleh Ibnu Majah (1/444 no. 1389). [4]

Syaikh Al Albani berkata dalam Dhaifu at Targhib wa at Tarhib bahwa hadits ini dhaif jiddan (lemah sekali).

  1. Hadits ke empat
في ليلة النصف من شعبان يوحي الله إلى ملك الموت يقبض كل نفس يريد قبضها في تلك السنة

“Pada malam nisfu sya’ban Alloh mewahyukan kepada malaikat maut untuk mencabut setiap jiwa pada tahun itu”.

Di riwayatkan oleh Ad Dinawariy dalam Al Mujalasah secara mursal dari Rasyid bin Sa’ad. Syaikh Al Albani berkata tentang hadits ini ; “Dhaif”.[5]

Hadits Shahih Seputar Nisfu Sya’ban

Terdapat beberapa hadits dengan lafadz yang hampir sama, mulai dari derajat hasan hingga shahih. Diantara hadits-hadits tersebut adalah ;

إذا كان ليلةُ النصفِ من شعبانَ اطَّلَع اللهُ إلى خلقِهِ فيغفر للمؤمنين ويُمْلِى للكافرين ويدعُ أهلَ الحِقْدِ بحقدِهم حتى يدعوه

“Pada malam nisfu sya’ban Alloh muncul (melihat) kepada hamba-Nya, Dia mengampuni seluruh orang beriman dan meninggalkan orang-orang kafir serta membiarkan pendendam dengan rasa dendamnya hingga ia meninggalkanya.”

Hadits di atas bersumber dari Abu Tsa’labah, Al Baihaqi mengeluarkanya dalam Syu’abul Iman (3/381 no. 3832), demikian pula Ibnu Abi Ashim (1/244 no. 511). Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan’. [6]

Semisal dengan itu juga hadits :

في ليلة النصف من شعبان يغفر الله عز وجل لأهل الأرض إلا مشرك أو مشاحن
“Pada malam nisfu sya’ban Alloh Azza wa Jalla mengampuni penduduk bumi kecuali orang musyrik dan orang suka bermusuhan.”
Hadits ini bersumber dari Katsir bin Murrah yang di riwayatkan oleh Al Baihaqi secara mursal, dan beliau mengatakan ; “Ini hadits mursal yang bagus”. [7] Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ hadits no. 4268 mengatakan bahwa hadits ini shahih.
Catatan

Hadits-hadits shahih atau hasan seputar nisfu sya’ban jumlahnya tidak sebanyak hadits-hadits dhaif yang ada. Bahkan hadits-hadits shahih yang ada secara lafadz hampir sama, hanya berbeda sedikit. Dan dari sekian yang ada, tidak di temukan hadits shahih yang menunjukkan anjuran khusus untuk merayakannya atau melakukan ibadah-ibadah tertentu di dalamnya. Maka pendalilan dengan hadits-hadits shahih mengenai malam nisfu sya’ban sebagai pembenar untuk merayakannya tidaklah tepat. Sebagaimana pula tidak kita temukan riwayat dari para pendahulu kita yang shalih mengenai perbuatan mereka yang merayakannya. Wallahu a’lam,.. [AR]



[1]. Tentu saja, keyakinan bahwa tanah Karbala lebih suci dari pada dua tanah Haram adalah keyakinan yang menyimpang, yang hanya di miliki oleh kaum Syiah yang sesat dan pengikutnya.
[2]. Lihat Jamiul Ahadits atau Al Jami’ Al Kabir Li As Suyutiy bab Harful Kha (خ) (12/310) Maktabah Syamilah
[3]. Al Jami’ Al Kabir (1/2973) Maktabah Syamilah
[4]. Al Jami’ Al Kabir bab Harful Ya (ي) (1/27029) Maktabah Syamilah
[5]. Shahih wa Dhaif al Jami’ as Shaghir hadits no 4019
[6]. lihat Shahih Al Jami’, hadits no. 771
[7]. Shahihu at Targhib wa at Tarhib (3/34) Maktabah Syamilah

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *