Empat Hadits Dhaif Populer Seputar Ramadhan

Banyak sekali kita jumpai hadits-hadits yang menyatakan keutamaan bulan Ramadhan. Namun tahukah kita bahwa ternyata sebagian dari hadits-hadits yang ada itu merupakan hadits yang lemah. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa hadits lemah tidak boleh kita jadikan hujjah atau kita sandarkan kepada Rasululloh Shalallohu alaihi wa Sallam. Terdapat ancaman dari beliau terhadap orang yang menyandarkan perkataan yang sebenarnya bukan merupakan sabda beliau Shalallohu alaihi wa Sallam. Beliau bersabda ;

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya dusta atas namaku tidaklah seperti dusta atas nama orang lain, barang siapa yang berdusta atas namaku maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka.” (HR : Bukhari, Muslim & lainnya)


Sebagian hadits-hadits dhaif tersebut diantaranya merupakan hadits populer yang sering kita dengar dari khatib atau pembicara pada kultum-kultum Ramadhan. Begitu populernya sehingga kita mengira bahwa hadits tersebut memang hadits yang bisa di jadikan hujjah.

Berikut kami sebutkan beberapa hadits lemah yang kadang sebagian tak asing di telinga kita seputar Ramadhan, beserta sisi kelemahannya ;

Hadits Pertama

انَ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ و بلغنا فِي رَمَضَانَ

“Apabila Nabi Shalallohu ‘alaihi wa Sallam memasuki bulan Rajab maka beliau mengatakan ; ‘Ya Alloh, bekahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Rramadhan.”
Hadits di atas bersumber dari Anas bin Malik, di riwayatkan oleh Thabrani dan juga Al Bazzar. Di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Zaidah bin Abi ar Raqad. Imam Bukhari berkata tentangnya ; ‘Munkarul hadits’, demikian pula an Nasai dan Ibnu Hibban melemahkannya. Ibnu Hajar juga menjelaskan secara gamblang bathil-nya hadits ini dalam kitab beliau Tabyinul ‘Ajab Bima Warada Fi Rajab.

Hadits Kedua

 عَنْ سَلْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ ، فَقَالَ : ” أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً ، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا ، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ ، وَشَهْرٌ يُزَادُ فِي رِزْقِ الْمُؤْمِنِ فِيهِ ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِمًا كَانَ لَهُ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ ، وَكَانَ لَهُ مثل أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ ” ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ ؟ قَالَ : ” يُعْطِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى مَذْقَةِ لَبَنٍ أَوْ تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ ، وَمَنْ أَشْبَعَ صَائِمًا سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ، مَنْ خَفَّفَ فِيهِ عَنْ مَمْلُوكِهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ ، وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : خَصْلَتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَانِ لا غِنَاءَ بِكُمْ عَنْهُمَا ، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَتَسْتَغْفِرُونَهُ ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لا غِنَاءَ بِكُمْ عَنْهُمَا ، فَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّار

“Dari Salman -semoga Alloh meridhai beliau- beliau mengatakan ; Rasululloh pernah berkhutbah kepada kami pada akhir bulan Sya’ban, beliau mengatakan ; ’Wahai manusia, akan datang menaungi kalian bulan yang agung, bulan yang padanya ada satu malam lebih baik dari seribu bulan. Alloh tetapkan puasa padanya sebagai kewajiban, dan salat pada malamnya sebagai tathawu (sunnah). Barangsiapa di dalamnya mendekatkan diri dengan kebaikkan (yang sifatnya sunnah), maka (pahalanya) seperti (pahala) bagi orang yang menunaikan kewajiban pada bulan selainnya. Dan siapa yang menunaikan kewajiban, (pahalanya) seperti orangyang menunaikan kewajiban sebanyak tujuh puluh kali pada bulan selainnya. Bulan itu adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu pahalanya adalah surga. Bulan yang penuh dengan kebaikan, bulan yang akan bertambah rizki seorang mukmin. Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa pada bulan itu, maka hal itu merupakan ampunanbagi dosa-dosanya dan lehernya akan terlepas dari api neraka, dan baginya akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa terkurangi sedikitpun dari pahalanya itu. Para sahabat bertanya ; Wahai Rasululloh, tidaklah semua dari kami memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berbuka berpuasa,.? Beliau menjawab ; “Alloh akan memberi pahala seperti ini kepada orang yang memberi makan orang yang berbuka puasa walaupun hanya dengan madzqah (air susudicampur), sebiji kurma ataupun seteguk air. Dan barang siapa yang mengenyangkan orang yang berpuasa maka Alloh akan memberinya air dari minum telagaku yang dengannya ia tidak akan merasa haus sampai ia masuk Surga. Bulan itu adalah bulan yang awalnya penuh rahmat, pertengahannya penuh ampunan dan ahirnya pembebasan dari neraka. Barang siapa yang di dalamnya memberikan keringanan pada budak yang ia miliki maka Alloh akan mengampuni dosanya dan membebaskannya dari Neraka. Perbanyaklah di dalamnya dengan empat tabiat baik ; Dua tabiat baik dengannya Alloh ridha kepada kalian, dan dua tabiat yang pasti kalian membutuhkannya. Dua tabiat yang mendatangkan keridhaan Alloh untuk kalian adalah persaksian bahwa tiada yang berhak di sembah kecuali Alloh dan kalian meminta ampunan kepada-Nya. Adapun dua tabiat yang kalian pasti membutuhkannya adalah kalian meminta kepada Alloh Surga dan perlindungan dari Neraka.”

Hadits yang sangat panjang di atas bersumber dari Salman al Farisi. Hadits ini banyak sekali di sampaikan oleh para khatib dalam ceramahnya, khususnya pada bulan Ramadhan, dan tentunya kita sudah sering mendengarnya. Hadits ini juga biasa di sebut dengan hadits Salman al Farisi, di riwayatkan oleh Al Baihaqi di dalam kitab Fadhailul Auqat. Perlu kita ketahui bahwa meskipun bisa di bilang bahwa secara makna hadits ini bisa kita katakan benar, namun sejatinya pada sanadnya terdapat dua perawi yang menjadikan hadits ini cacat. Yang pertama adalah Ali bin Zaid bin Jud’an, an Nasai berkata tentang beliau ; ‘Lemah’, Ibnu Khuzaimah mengatakan ; ‘Aku tidak berhujjah denganya di karenakan buruknya hafalannya’, Abu Zar’ah mengatakan ; ‘Laisa bil qawiy’, dan Abu Hatim juga mengatakan hal yang sama ; ‘Laisa bi qasiy’.

Yang kedua adalah Yusuf bin Ziyad, kunyah-nya adalah Abu Abdillah, termasuk thabaqah ke 7. Ia di golongkan sebagai munkarul hadits.

Maka berhujah dengan hadits ini dan menyandarkannya kepada Rasululloh -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- tidak di benarkan, di karenakan secara ilmiah hadits ini tidak dapat di pertanggungjawabkan. Bahkan kita takutkan bisa di golongkan sebagai orang yang berdusta atas nama Rasululloh -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- hingga mendapatkan ancaman sebagaimana hadits beliau.

Hadits Ketiga

 لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Jika seandainya umatku mengetahui apa yang ada pada bulan Ramadhan niscaya akan berharap satu tahun penuh adalah Ramadhan”.

Hadits ini juga tidak kalah populer dengan hadits sebelumnya, sering kali kita dengar dari para penceramah di bulan Ramadhan. Hadits ini di riwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab beliau ‘Fadhailu Syahri Ramadhan’, demikian pula Abu Na’im al Ashbahani dalam ‘Ma’rifatu as Shahabah’, dan Ibnul Jauzi dalam ‘Al Maudhuat Al Kubra’, serta beberapa ulama hadits lain.

Pada sanad hadits ini ada dua perawi yang membuat hadits ini tidak bisa di jadikan hujjah. Pertama adalah Nafi’ bin Burdah, ia di katakan ; ‘majhulul hal’ (keadaanya tidak di ketahui). Kedua adalah Jarir bin Ayyub, Al Baihaqi mengatakan ; ‘Ia lemah menurut ahli naql (hadits), An Nasa’i mengatakan ; ‘Matruk’, Ad Daruqtni mengatakan ; ‘Ia memalsukan hadits’.

Hadits Keempat

اغْزُوا تَغْنَمُوا ، وَصُومُوا تَصِحُّوا ، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا

“Berperanglah maka kalian akan mendapatkan ghanimah, puasalah maka kalian akan sehat, dan bepergianlah maka kalian akan merasa cukup.”

Hadits ini di keluarkan oleh At Thabrani dalam ‘Al Mu’jam Al Ausath’. Padanya ada perawi yang bernama Musa bin Zakariya, Ad Daruqtni mengatakan ; ‘Matruk’. Syaikh al Albani mengatakan hadits ini ‘dhaif’ sebagaimana di dalam karya beliau ‘Dhaif al Jami’ as Shaghir’.

Sebenarnya masih banyak hadits-hadits dhaif  lain ingin kami tuliskan disini, namun karena adanya keterbatasan maka kami cukupkan empat hadits ini, yang kami anggap paling populer di sampaikan oleh para khatib atau penceramah pada saat bulan Ramadhan. Dengan harapan kiranya kita dapat menyampaikan kepada masyarakat yang belum faham bahwasannya hadits-hadits ini sebenarnya merupakan hadits-hadits yang lemah dan tidak boleh kita ber-hujjah denganya. Serta tidak layak pula ucapan ini (hadits ini) kita sandarkan kepada Nabi -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- dikarenakan ada ancaman tegas dari beliau bagi orang yang melakukannya. Wallohu Ta’ala a’lam,…

[Dalam pengklasifikasian perawi penulis banyak mengambil faidah dari ‘Mausu’atul Hadits’ yang terdapat dalam Islamweb.net]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *