Sekali Lagi, Waspadai Sikap Ghuluw,..!

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo

Alloh Ta’ala memerintahkan kita agar senantiasa berjalan diatas jalanNya yaitu berdasarkan Al qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, serta tidak keluar dari padanya. Alloh berfirman :

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (selain jalan itu) maka kalian akan terpisah dari jalan itu, yang demikian itu Alloh mewasiatkan kepada kalian hal itu agar kalian bertakwa”. (QS : Al An’am : 153)

Akan tetapi iblis dan bala tentaranya tidak akan tinggal diam, ia akan berupaya memalingkan manusia dari jalan lurus tersebut. Apabila manusia itu seorang ahli maksiat maka iblis dan syaiton akan menghiasi pandangannya dengan syahwat, adapun apabila manusia itu seorang ahli ibadah maka iblis dan syaiton akan menghiasinya dengan ghuluw untuk menghancurkan agamanya.

Ibnu Abbas mengabarkan :


خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْماً خَطًّا ثُمَّ قَالَ :« هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ». ثُمَّ خَطَّ خُطُوطاً عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ :« هَذِهِ سُبُلٌ ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ». ثُمَّ تَلاَ (وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ )

“Pada suatu hari Rasululloh Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam membuat suatu garis, lalu beliau bersabda : <“Ini jalan Alloh”>, kemudian beliau membuat garis lagi pada garis tersebut dari sisi kanan dan kirinya, kemudian bersabda : <“Ini merupakan jalan-jalan menyimpang (cabang-cabang), pada tiap-tiap cabangnya terdapat syaiton yang menyeru kepadanya”>. Kemudian beliau membaca ayat : “Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (selain jalan itu) maka kalian akan terpisah dari jalan itu, yang demikian itu Alloh mewasiatkan kepada kalian hal itu agar kalian bertakwa”. (HR : Ahmad, Ad Darimiy, Hakim, Nasai dan di hasankan oleh syaikh Al Albani)

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah berkata : “Alloh tidaklah memerintahkan sebuah perkara kecuali syaiton mencoba memalingkan dariya, entah itu dengan membisikkan kepada manusia supaya meremehkannya (tafrith) ataupun dengan membisikkan kepada manusia supaya bersikap berlebih-lebihan (ifrath atau ghuluw) terhadapnya. Agama Islam adalah agama yang pertengahan, yaitu diantara sikap meremehkannya ataupun berlebih-lebihan padanya, layaknya sebuah lembah diantara dua gunung, petunjuk diantara dua kesesatan, serta pertengahan diantara dua sisi yang tercela. Sesungguhnya orang yang meremehkan sebuah perkara ataupun berlebih-lebihan padanya hakikatnya ia telah mempersempit perkara tersebut, yaitu dengan mengurangi ataupun menambahkannya.” (Al Ghuluw Madhohiruhu wa Asbabuhu wa ‘Ilajuhu Muhammad bin Nashir al ‘Arini halaman 19-20 Maktabah Fahrusah Malik Fahd Al Wathoniyah cetakan ke 6 tahun 1429 H)
Seperti itulah upaya syaiton dalam rangka menggelincirkan manusia dari jalan kebenaran, berupaya menyesatkan manusia melalui cara-cara tafrith (meremehkan) dan ghuluw (berlebih-lebihan).

Hakikat Ghuluw

Al jauhari mengatakan :

غَلَا فِي الأَمْرِ يَغْلُو غُلُّوًا , أَي جَاوَزَ فِيهِ الحَدَّ

“Berlebih-lebihan dalam sebuah perkara (dengan ghuluw) yaitu melebihkannya dari batas ukuranya”

Ibnul Mandzur mengatakan : “,..asal ghuluw adalah melewati dan melebihi ukuran dalam segala hal,.”. (Al Jadzur at Tarikhiyah Li Haqiqatil Ghuluw, Ali bin Abdul Aziz halaman 5 Maktabah Syamilah)

Sedangkan yang dimaksud ghuluw dalam agama adalah sikap berlebih-lebihan di dalam beragama sehingga melebihi apa yang telah di tetapkan syariat. Tentunya hal ini sangat membahayakan, karena dengan begitu seseorang akan menambah apa-apa yang tidak ada di dalam syariat. Diantara penyebabnya adalah :

          Banyak berpalingnya kaum Muslimin dari agama mereka, baik aqidah, akhlak, maupun syariatnya
          Tersebarnya kedzaliman dengan berbagai macam bentuknya
          Adanya upaya penolakan iltizam (konsekwen) terhadap Sunnah dan pengamalanya
          Kebodohan terhadap ilmu Syar’i dan sedikitnya pemahaman agama. (Al Ghuluw Al Asbab Wal ‘Ilaj, Nasir Ibnu Abdul Karim, www.al-islam.com)

Sikap Ghuluw Sebab Awal Kekafiran

Sikap ghuluw bisa menjadi penyebab kekufuran. Ini telah terbukti sebagaimana perbuatan ghuluw yang di lakukan kaum Nuh ‘Alaihi wa Sallam yang membawa mereka kepada kekafiran. Inilah yang menjadi sebab di utusnya beliau kepada kaumnya, yakni karena perbuatan ghuluw yang mereka lakukan. Awalnya syaiton tidaklah menyuruh mereka secara langsung untuk berbuat kafir kepada Alloh, akan tetapi yang di lakukan syaiton adalah membelokkan manusia ke arah perbuatan ghuluw.

Perbuatan ghuluw seperti apakah yang mereka lakukan,..? Sebagaimana hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa mereka pada awalnya berbuat ghuluw kepada orang-orang shalih di kalangan mereka dengan membuat patung.  Ketika datang generasi berikutnya syaiton membisikkan kepada mereka agar berkumpul di tempat tersebut dan menamai patung-patung itu dengan nama orang-orang shalih tadi. Sampai di sini patung-patung itu belum di sembah, sampai habislah generasi ini kemudian datang generasi berikutnya dan syaiton kembali membisikkan syubhatnya kepada mereka, sehingga kemudian patung-patung tersebut di sembah oleh manusia. (Mengenai hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Shahihnya pada Kitab Tafsir Bab Firman Alloh Ta’ala surat Nuh ayat 23)

Sikap ghuluw juga melanda kaum Muslimin pada masa khalifah Utsman bin Affan, dimana orang-orang Khawarij bersikap ghuluw, sehingga menhalalkan darah beliau dan membunuhnya. (Al Ghuluw Madhohiruhu wa Asbabuhu wa ‘Ilajuhu Muhammad bin Nashir al ‘Arini halaman 45 Maktabah Fahrusah Malik Fahd Al Wathoniyah cetakan ke 6 tahun 1429 H)

Adapun pada masa sekarang sikap ghuluw ini masih nampak melanda kaum Muslimin. Kita lihat sebagian saudara-saudara kita meyakini para Kyai, maupun orang-orang tertentu memiliki kelebihan sehingga mereka mengaggap dapat memberikan barokah, rizki, menyembuhkan penyakit, ataupun melihat perkara ghaib, na’udzubilah,..! Ini merupakan sikap ghuluw,..!

Perhatikanlah hal ini wahai pembaca sekalian, betapa sikap ghuluw itu membahayakan. Dengan pandainya syaiton menjadikan hal ini sebab kekufuran kaum Nuh. Dan dengan pandainya pula syaiton menyesatkan fikiran orang-orang Khawarij pada masa Utsman sehingga mereka menganggap beliau kafir dan akhirnya menghalalkan darah dan kehormatan beliau,..!

Oleh karenanya syariat melarang keras perbuatan ini. Alloh berfirman :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu sekalian berlebih-lebihan dalam agama, dan janganlah mengatakan mengenai Alloh kecuali kebenaran. Dan bahwasanya Al Masih ibnu Maryam adalah Rasul Alloh,.” (QS : An Nisaa : 171)

Sikap ghuluw bisa menjadikan pelakunya melihat perkara halal sebagai perkara haram, perkara haram sebagai perkara halal, perkara buruk sebagai perkara baik serta perkara baik sebagai perkara buruk, menghalalkan darah kaum Muslimin bahkan sebagai pintu kesyirikan. Semoga Alloh Ta’ala menjaukan kita dari perkara tersebut.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *