Betapa Nabi Shalallohu ‘Alaihi Wasallam Amat Memperhatikan Perkara Ini,.!

Terlihat sebuah amalan yang sederhana, namun ternyata Nabi Shalallohu ‘alaihi wa Sallam begitu memperhatikan perkara ini. Itulah “bersiwak”, atau menggosok gigi dalam bahasa sekarang. Siwak sebenarnya adalah nama untuk kayu yang di gunakan menggosok gigi. Tujuan dari bersiwak adalah untuk menghilangkan warna kuning pada gigi, bau yang tidak sedap pada mulut, dan membersihkannya. 
Di dalamnya terdapat faidah-faidah yang banyak, diantaranya berupa kebersihan, kesehatan, wanginya mulut, mengikuti sunnah Nabi, dan juga yang terpenting adalah mendapatkan pahala dari Alloh Ta’ala.
Para ulama memasukkannya pada bab thaharah (bersuci) di karenakan bersiwak termasuk sunnah wudhu. Yang artinya, apabila hal itu kita lakukan maka akan lebih menyempurnakan wudhu kita.
Yang mungkin tidak kita ketahui adalah ternyata beliau Shalallohu ‘alaihi wa Sallam amat memperhatikan amalan ini. Oleh karenanya kita dapatkan banyak hadits yang menceritakan amalan beliau yang satu ini.
Dari Hudzaifah bin Al Yaman beliau mengatakan :

عنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْسُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
“Dari Hudzaifah bin Al Yaman beliau mengatakan : “Rasululloh Shalallohu ‘alaihi wa Sallam apabila bangun malam Beliau mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak,.”. (HR : Bukhari)
Karena kecintaan beliau terhadap kebersihan dan tidak sukanya beliau pada bau yang tidak sedap, oleh karenannya ketika beliau bangun dari tidur malamnya yang panjang yang mana di situ dapat di pastikan berubahnya bau mulut menjadi tidak sedap, beliau bersiwak untuk menghilangkan bau tersebut.
Ketika bersiwak pun beliau melakukannya secara sungguh-sungguh, sebagaimana di ceritakan oleh Abu Musa Al Asy’ari –semoga Alloh meridhai beliau-, beliau menceritakan :
أتَيْتُ النَّبِيَّ وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ قَالَ وَطَرْفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ أُعْ أُعْ وَالسِّوَاكُ فِيْ فِيْهِ كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ 
“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia sedang bersiwak dengan siwak yang basah. Dan ujung siwak pada lidahnya dan dia sambil berkata “Uh- uh”. Dan siwak berada pada mulutnya seakan-akan beliau muntah”. (HR : Bukhori, Muslim)
Oleh karenanya hadits ini dapat kita jadikan dalil di syariatkanya bersiwak dengan sungguh-sungguh atau berlebih-lebihan, kecuali pada saat berpuasa.
Jika saja bersiwak tidak membebani umat ini, niscaya beliau mewajibkanya atas kita. Beliau bersabda :
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَّلاَةٍ
“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat”. (HR : Bukhari, Muslim)
Beliau senantiasa bersiwak sepanjang hayat, bahkan hal itu pun di lakukan menjelang akhir hayat beliau. Hal itu kita dapatkan sebagaimana pada hadits berikut :
عنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى النَّبِيِّ وَ أَنَا مُسْنِدَتُهُ إلَى صَدْرِي – وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ – فَأَبَدَّهُ رَسُوْلُ اللهِ بَصَرَهُ، فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَضِمْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ، ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ فَاسْتَنَّ بِهِ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا أَحْسَنَ مِنْهُ. فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُوْلُ اللهِ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ ثُمَّ قَالَ : (فِي الرَّفِيْقِ الأَعْلَى) ثَلاَتًا، ثُمَّ قُضِيَ عَلَيْهِ.
 و في لفظ : فرأيته ينظر إليه, و عرفته أنه يحب السواك فقلت : آخذ لك؟ فأشار برأسه : أن نعم.
“Dari ‘Aisyah berkata : Abdurrohman bin Abu Bakar As-Sidik menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersandar di dadaku. Abdurrohman membawa siwak yang basah yang dia gunakan untuk bersiwak. Dan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang siwak tersebut. Maka aku pun lalu mengambil siwak itu dan mematahkannya, lalu aku membaguskannya kemudian aku berikan siwak tersebut kepada Rosulullah, maka beliaupun bersiwak dengannya. Dan tidaklah pernah aku melihat Rosulullah bersiwak yang lebih baik dari itu. Dan setelah Rosulullah selesai dari bersiwak dia pun mengangkat tangannya atau jarinya lalu berkata : “fii ar Rofiiqil A’la”. Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau wafat.”
Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata :”Aku melihat Rosulullah memandang siwak tersebut, maka akupun tahu bahwa beliau menyukainya, lalu aku berkata : ‘Aku ambilkan siwak tersebut untuk engkau?” Maka Rosulullah mengisyaratkan dengan kepalanya yaitu tanda setuju.” (HR :  Bukhori dan Muslim)
Maka kita dapatkan beberapa faidah dari uraian kita di atas :
  1. Kecintaan Nabi Shalallohu ‘alaihi wa Sallam terhadap siwak. Hal ini di tunjukkan sebagaimana hadits ‘Aisyah diatas.
  2. Bersiwak termasuk sunnahnya wudhu. [lihat Taisirrul ‘Allam Syarh ‘Umdatil Ahkam hal 35 Darul Kutub Al Ilmiyah Beirut]
  3. Hukumnya adalah sunnah muakkadah, yang hampir sampai pada derajat wajib. Imam Nawawi mengatakan : “Telah sepakat orang-orang yang menganggap penting hal ini (siwak) bahwasannya bersiwak merupakan sunnah muakkadah, dan bukan wajib, kecuali apa yang di ceritakan dari Dawud Addzahiriy bahwasannya ia mewajibkannya ketika shalat”. [lihat http://www.talkhesat.net]
  4. Disunnahkan melakukannya secara berlebih-lebihan, kecuali pada saat berpuasa.
  5. Bersiwak memiliki faidah yang banyak dari sisi kebersihan yang akan berdampak pada kesehatan. Diantaranya menjaga kesegaran mulut yang merupakan pintu gerbang bagi perut. Maka apabila mulit itu bersih berarti pula perut itu bersih.
  6. Mendatangkan keridhaan Alloh Ta’ala. Diriwayatkan dari Imam Tirmidzi dengan sanad hasan dan Imam Bukhari memberikan komentar di dalam Shahihnya, Rasululloh Shalallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
“Bersiwak itu dapat mensucikan mulut dan dapat mendatangkan keridhaan Alloh.”
  1. Termasuk sunnah fitrah. Sebagaimana di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad Hasan :
أربع من سنن المرسلين : الختان و التعطر و السواك و النكاح
“Empat hal yang termasuk sunnahnya para Rasul : khitan, memakai wangi-wangian, bersiwak dan menikah.” 

Mesikipun sanad hadits ini banyak yang dhaif, akan tetapi hadits ini memiliki banyak syawahid (penguat), yang menjadikanya naik pada derajat Hasan Lighairihi. [silahkan di cek di http://www.islamweb.net]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *