Kafarah Sumpah Yang Di Langgar

Pertanyaan :

Adakah kafarah (denda/tebusan) bagi orang yang melanggar sumpahnya, atau melakukan sumpah palsu.? Jika ada apa sajakah bentuknya,.?

Jawab :

Yang harus kita ketahui terlebih dahulu adalah bahwa melanggar sumpah atau melakukan sumpah palsu adalah sebuah dosa besar, ini tersirat dalam sabda Nabi Shalallohu ‘alaihi wa Sallam :

اَلْكَبَائِرُ اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَالْيَمِيْنُ الْغَمُوْسُ

“Termasuk dosa besar diantaranya mensekutukan Alloh, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa (yang diharamkan tanpa hak) dan sumpah palsu”. (HR Bukhari 6298)

Dan dosa besar tidaklah bisa terhapuskan dengan amalan-amalan shalat lima waktu, puasa ramadhan, haji, umrah dan lainnya. Ia hanyalah bisa terhapuskan dengan taubat nasuha.

Adapun tentang kafarahnya maka ini telah di jelaskan oleh Alloh Ta’ala dalam firmanNya ;

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Alloh tidak menghukum kamu di sebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak di sengaja (untuk bersumpah) tetapi Dia menghukum kamu di sebabkan sumpah-sumoah yang kamu sengaja, maka kafarahnya (denda/tebusan) adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barang siapa yang tidak mampu melakukannya maka (kafarahnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarah sumpah sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu, demikianlah Alloh menerangkan hukum-hukumnya kepadamu agar kamu bersyukur (kepadaNya).” (QS Al Maidah : 89)

Maka dari ayat ini ada beberapa pilihan kafarah yang wajib di tunaikan berdasarkan kemampuan masing-masing. Yaitu ;

1. Memberi makan sepuluh orang miskin dengan makanan yang biasa kita berikan kepada keluarga. Masing masing orang miskin di beri setengan sha’ (satu sha’ adalah ukuran zakat fitri), atau bisa juga mengundang mereka kemudian di suguhkan makanan kepada mereka maka itu pun sudah mencukupi.

2. Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin. Dalam hal ini di berikan pakaian yang bisa mencukupi untuk shalat mereka. Jika laki-laki diberi gamis dan sarung, jika perempuan diberi jubah dan khimarnya (kerudung).

3. Memerdekakan hamba sahaya yang mukmin.

Jika ketiga pilihan di atas tidak ada satupun yang di mampui maka masih ada alternatif yang terakhir, yakni ; berpuasa tiga hari berturut-turut. Ini adalah pilihan terakhir, artinya jika seseorang mampu mengerjakan salah satu dari tiga pilihan di atas maka tidak boleh ia mengerjakan pilihan yang terakhir ini.

Bolehkan mengeluarkan kafarah dalam bentuk uang,.?

Jumhur ulama (mayoritas ulama) tidak membolehkannya, Ibnu Qudamah mengatakan ;

لا يُجْزِئُ في الكفارة إِخراج قيمة الطعام ولا الكسوة ، لأن الله ذكر الطعام فلا يحصل التكفير بغيره ، ولأن الله خَيَّرَ بين الثلاثة أشياء ولو جاز دفع القيمة لم يكن التَخْيِِيرُ منحصراً في هذه الثلاث … ” اهـ . المغني لابن قدامة 11/256

“Tidaklah mencukupi dalam hal kafarah seseorang mengeluarkannya dengan harga makanan atau pakaian (uang), di karenakan Alloh menyebutkan makanan, maka tidak mencukupi kafarah dengan selainnya, dan di karenakan Alloh memberikan pilihan antara tiga hal ini. Jikalau sekirannya di perbolehkan membayarkan dalam bentuk uang maka tentunya pilihan yang di berikan oleh Alloh (dalam ayat ini) tidaklah terbatas hanya tiga hal ini,..” (Al Mughni karya Ibnu Qudamah 2/256)

Syaikh Ibnu Baz mengatakan ;

على أن تكون الكفارة طعاما لا نقودا، لأن ذلك هو الذي جاء به القرآن الكريم والسنة المطهرة، والواجب في ذلك نصف صاع من قوت البلد ، من تمر أو بر أو غيرهما ، ومقداره كيلو ونصف تقريبا ، وإن غديتهم أو عشيتهم أو كسوتهم كسوة تجزئهم في الصلاة كفى ذلك ، وهي قميص أو إزار ورداء ) انتهى نقلا عن فتاوى إسلامية 3/481:

“Kafarah itu haruslah dengan makanan, tidak dengan uang. Dikarenakan itulah yang di jelaskan oleh Al Qur’an dan Sunnah. Maka wajib (dalam ukuran makanan) membayarkan setengah sha’ makanan yang biasa di makan di Negerinya, seperti kurma, gandum, atau yang lainnya. Adapun ukurannya kira-kira adalah satu kilo setengah (1,5 kg). Apabila anda mengundang mereka untuk makan siang atau makan malam, atau anda membelikan pakaian mereka yang bisa mencukupi bila di gunakan untuk shalat maka itu sudah cukup, yaitu baju gamis atau sarung dan jubah.” (Fatawa Islamiyah 3/481)

Bagaimana jika tidak menemukan sepuluh orang miskin yang bisa di beri makan,.?

Syaikh Utsaimin mengatakan ;

فإن لم يجد الإنسان لا رقبة ولا كسوة ولا طعاماً فإنه يصوم ثلاثة أيام ، وتكون متتابعة لا يفطر بينهما

“Jika seseorang tidak menemukan hamba sahaya (budak), tidak pula pakaian dan makanan maka ia berpuasa tiga hari secara berturut-turut, dan tidak boleh berbuka diantaranya.” (Fatawa Manaril Islam 3/667)

Wallohu A’lam,.

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo

* Penulis banyak mengambil faedah dari fatwa Syaikh Shalih Munajjid di sini.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *