Shalat Wajib Di Belakang Orang Yang Melakukan Shalat Sunnah, Bolehkah,..??!

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo

Pembahasan kita kali ini seputar shalat wajib di kerjakan seseorang di belakang imam yang mengerjakan shalat sunnah. Sebagai contoh, orang yang mengerjakan shalat dhuhur ber-imam kepada orang yang mengerjakan shalat sunnah rawatib, atau orang yang mengerjakan shalat isya’ ber-imam kepada orang yang mengerjakan shalat sunnah rawatib dan yang lainnya. Hal tesebut bisa saja terjadi apabila seseorang terlambat tiba di Masjid, kemudian ia mendapati ada orang yang sedang melaksanakan shalat, yang tentunya orang yang terlambat tadi tidak mengetahui ia sedang melakukan shalat wajib ataukah sunnah. Kemudian ia ber-imam kepada orang yang sedang mengerjakan shalat tadi, dan tatkala selesai baru ia mengetahui bahwa dirinya telah ber-imam kepada orang yang mengerjakan shalat sunnah, sementara ia sendiri mengerjakan shalat wajib. Bagaimanakah hukum dari peristiwa tadi, sah-kah shalat yang di kerjakannya,.?? Pembahasan berikut semoga bermanfaat,.

Pada dasarnya ulama berbeda pendapat tentang hal ini, ada yang menyatakan bahwa shalat yang di lakukan menjadi tidak sah dan ada yang menyatakan sahnya shalat yang di kerjakan Diantara ulama yang menyatakan tidak bolehnya orang yang melakukan shalat wajib ber-imam di belakang orang yang melakukan shalat sunnah atau sebaliknya adalah Az Zuhriy, Imam Malik, serta ulama-ulama yang bermadzhab hanafi (hanafiyah). Inilah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad dan di pilih oleh kebanyakan pengikut madzhab beliau.

Adapun diantara ulama yang berpendapat bolehnya hal itu dan shalat yang di kerjakan juga sah adalah Atha, Auza’I, Imam Syafi’I, Abu Tsaur, dan ini juga merupakan riwayat yang kuat dari Imam Ahmad, pendapat ini pula yang di pilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

DALIL ULAMA YANG MELARANG

Mereka yang berpendapat dilarang serta tidak sahnya orang yang melakukan shalat wajib ber-imam di belakang orang yang melakukan shalat sunnah atau sebaliknya berdalil dengan sabda Nabi -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- ;

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

“Imam itu hanyalah di jadikan untuk di ikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya,.” (HR : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lafadz seperti di atas sebagaimana di riwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatta’)

Mereka beralasan bahwa perbedaan niat antara makmum dengan imamnya berarti itu merupakan bentuk menyelisihi imam. Sementara perintah Nabi sebagaimana hadits di atas adalah keharusan untuk mengikuti imam dalam segala hal, termasuk di antaranya dalam hal niat.

DALIL ULAMA YANG MEMBOLEHKAN

Mereka yang berpendapat boleh dan sahnya orang yang melakukan shalat wajib ber-imam di belakang orang yang melakukan shalat sunnah atau sebaliknya berdalil dengan hadits Mu’adz, dari Jabir bin Abdillah -semoga Alloh meridhai keduanya- bahwasanya ;

أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ كَانَ يُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ فَيُصَلِّي بِهِمْ تِلْكَ الصَّلَاةَ

“Bahwa Mu’adz bin Jabal beliau shalat bersama Rasululloh -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- shalat Isya’ lalu beliau kembali kepada kaumnya lantas shalat bersama dengan mereka shalat itu (shalat isya’).” (HR : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Hibban)

Hadits ini menceritakan perbuatan Mu’adz yang beliau shalat isya’ bersama -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- lantas tatkala pulang kepada kaumnya beliau kembali mengulangi shalat isya’ tadi bersama-sama dengan kaumnya. Pada hadits ini jelas shalat yang di lakukan oleh Mu’adz salah satunya adalah shalat sunnah, di karenakan beliau sudah melakukan shalat bersama Nabi -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam-, dan itu berarti menunjukkan bolehnya shalat dengan perbedaan niat antara makmum dengan imam.

MANAKAH YANG LEBIH RAJIH,..??

Jika kita kembali menelaah dalil dan alasan yang di kemukakan maka kita dapatkan bahwa pendapat kedua lah yang lebih kuat. Alasannya pertama ; pendapat pertama bahwa imam itu tidak boleh di selisihi, bahkan termasuk dalam hal niat telah terbantahkan oleh dalil yang di gunakan oleh pendapat ke dua, yaitu hadits Mu’adz bin jabal yang menunjukkan adanya perbedaan niat antara makmum dan imam.

Kedua ; alasan lain yang menunjukkan lemahnya pendapat pertama adalah adanya penjelasan Nabi dalam lanjutan hadits yang di gunakan sebagai dalil oleh mereka (yang menyatakan tidak bolehnya orang yang melakukan shalat wajib ber-imam di belakang orang yang melakukan shalat sunnah atau sebaliknya) yaitu ;

فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا ، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا ، وَإِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا

“Apabila imam bertakbir maka bertakbirlah, apabila imam ruku’ maka ruku’lah, apabila imam sujud maka sujudlah, dan apabila imam shalat dalam keadaan berdiri maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri.” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud)

Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah juga di katakan ;

وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا

“Apabila imam shalat dalam keadaan duduk maka shalatlah kalian dalam keadaan duduk.”

Dari lafadz di atas jelas menunjukkan bahwa yang di maksudkan Nabi -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- untuk tidak menyelisihi imam adalah dalam hal gerakan, maka jika imam bertakbir makmum hendaknya juga bertakbir, jika imam ruku’ maka makmum hendaknya juga ruku’, jika imam shalat dalam keadaan duduk maka hendaknya makmum juga shalat dalam keadaan duduk, tidak menyelisihinya. Demikian pula hendaknya makmum tidak ketinggalan dalam waktu yang lama dari gerakan imam. Itulah yang Nabi maksudkan dengan perintah agar tidak menyelisihi imam.

Ketiga ; terdapat pula hadits lain yang menjadi pendukung dari pendapat kedua ini, yaitu hadits ;

أَنَّ جَابِرًا أَخْبَرَهُ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلاَةَ الْخَوْفِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِإِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى بِالطَّائِفَةِ الأُخْرَى رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَصَلَّى بِكُلِّ طَائِفَةٍ رَكْعَتَيْنِ

“Bahwasannya Jabir mengabarkan kepadanya (Abu Salamah Ibnu Abdirrahman) bahwa beliau (Jabir) shalat bersama Rasululloh -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam-  shalat khauf (shalat yang di kerjakan takut/ perang). Maka Rasululloh -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- shalat bersama salah satu dari dua kelompok sebanyak dua (2) rekaat, kemudian bersama dengan kelompok yang lain sebanyak dua (2) rekaat pula. Maka Rasululloh -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- shalat sebanyak empat (4) rekaat, dengan tiap-tiap kelompok sebanyak dua rekaat.” (HR : Muslim, Abu Dawud)

Hadits ini menceritakan shalat ‘khauf’ yang di kerjakan Nabi bersama para sahabatnya. Nabi membagi mereka menjadi dua kelompok dan beliau mengimami mereka dengan tiap kelompok sebanyak dua (2) rekaat, kemudian salam. Ini menunjukkan bahwa salah satu dari shalat yang beliau kerjakan adalah shalat sunnah, sementara dua kelompok yang shalat bersama beliau kesemuanya mengerjakan shalat wajib. Ini sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud. Pendapat ini pula yang di pilih oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy.

Referensi ;

[Kitab Taisirrul ‘Allam Syarh Umdatil Ahkam penjelasan hadits ke 112, halaman 138-139, cetakan ke 2 terbitan Darul Kutub Al Ilmiyah Beirut]

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *