WAJIBKAH ISTERI MELAYANI KEBUTUHAN DHAHIR SUAMI,.? (MENCUCIKAN BAJU, MASAK DLL)

Oleh : Abu Ruqoyyah Setyo Susilo

Pertanyaan :

Menurut syariat, apakah sebenarnya seorang isteri wajib untuk melayani kebutuhan dhahir suami dirumah, seperti membuatkan makanan, mencucikan pakaiannya, dan menyeterikakannya, serta kebutuhan-kebutuhan lainnya,.? Bolehkah ia meminta kepada suami untuk di carikan pembantu yang akan melayani kebutuhannya sehari-hari sebagai gantinya,.?

Jawab :

Dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah (19/44) di sebutkan ;

لا خلاف بين الفقهاء في أن الزوجة يجوز لها أن تخدم زوجها في البيت ، سواء أكانت ممن تخدم نفسها أو ممن لا تخدم نفسها

“Tidak ada perselisihan di kalangan ahli fiqih tentang kebolehan seorang isteri membantu suaminya dalam urusan rumah tangga, baik si isteri termasuk wanita yang terbiasa melayani dirinya sendiri atau bukan,..”

Hanya saja mengenai hukumnya, apakah wajib atau tidak maka dalam hal ini setidaknya ada tiga pendapat dari para ulama. Pendapat pertama seorang isteri tidak wajib melayani kebutuhan dhahir suami, ini adalah pendapat dari jumhur (mayoritas) ulama, Syafi’iyah, Hanabilah dan sebagian Malikiyah. Pendapat kedua seorang isteri wajib melayani kebutuhan dhahir suaminya di rumah, ini menjadi pendapat Hanafiyah. Pendapat ketiga seorang isteri wajib melayani suami sebagaimana kebiasaan masyarakat setempat, jika kebiasaan yang ada di masyarakat seorang isteri melayani semua kebutuhan dhahir suami maka hukumnya wajib bagi isteri, namun jika kebiasaan yang ada di masyarakat isteri tidak melayani kebutuhan dhahir suami maka tidak wajib pula atasnya. Maka kewajibannya hanya sebatas kebiasaan yang umum yang berlaku di masyarakatnya. Ini adalah pendapat dari mayoritas Malikiyah, Abu Tsaur, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Ishaq Al Jauzajani.

Dalil dari pendapat pertama, yaitu pendapat dari jumhur ulama (mayoritas ulama) Syafi’iyah, Hanabilah dan sebagian Malikiyah adalah karena tidak adanya dalil akan hal itu, mereka beralasan bahwa akad nikah itu hanyalah berkonsekwensi pada kewajiban melayani kebutuhan batin, bukan membantu atau melayani kebutuhan dhahirnya. Mereka mengatakan ;

والأحاديث المذكورة إنما تدل على التطوع ومكارم الأخلاق ، فأين الوجوب منها ؟

“Hadits-hadits yang ada (yang di sebutkan oleh ulama yang mewajibkan) hanyalah menunjukkan anjuran, dan akhlak yang mulia, mana yang menunjukkan wajibnya,..?”

Dalil dari pendapat kedua yaitu pendapat dari Hanafiyah yang menyatakan bahwa seorang isteri wajib melayani kebutuhan dhahir suaminya diantaranya adalah ;

عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ , قَالَ : ” قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ابْنَتِهِ فَاطِمَةَ بِخِدْمَةِ الْبَيْتِ , وَقَضَى عَلَى عَلِيٍّ بِمَا كَانَ خَارِجًا مِنَ الْبَيْتِ “

“Dari Dhamrah bin Habib beliau berkata ; “Rasululloh Shalallohu ‘alaihi wa Sallam memutuskan untuk puterinya Fathimah agar membantu suaminya dalam urusan rumah-tangga, dan untuk Ali berkenaan dengan pekerjaan-pekerjaan di luar rumah.” (HR Ibnu Abi Syaibah)

Demikian pula riwayat :

عن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : { لو أمرت أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها ولو أن رجلا أمر امرأته أن تنقل من جبل أحمر إلى جبل أسود ومن جبل أسود إلى جبل أحمر : لكان لها أن تفعل

“Dari Aisyah, dari Nabi Shalallohu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda ; “Kalau sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya. Jikalau seorang laki-laki memerintahkan isterinya untuk pindah dari gunung merah ke gunung hitam dan dari gunung hitam ke gunung merah maka wajib baginya untuk pindah.” (HR Ibnu Majah, hadits semisal juga di keluarkan oleh Abu Dawud)

Juga riwayat perintah Nabi kepada Aisyah agar di buatkan makanan, yang di situ Nabi bersabda ;

أَطْعِمِينَا يَا عَائِشَةُ ” قَالَتْ : مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ

 “Buatkan makanan untuk kami wahai Aisyah,.! Aisyah menjawab ; Tapi kita tidak memiliki apa-apa untuk di masak,.!? (HR Ibnu Abi Hatim)

Maka berdasarkan riwayat-riwayat diatas Hanafiyah berpendapat wajib bagi seorang isteri melayani kebutuhan suaminya dalam kebutuhan rumahnya. Ibnu Habib di dalam Al Waadhihah mengatakan ;

حكم النبي صلى الله عليه وسلم بين على بن أبى طالب رضي الله عنه ، وبين زوجته فاطمة رضي الله عنها حين اشتكيا إليه الخدمة ، فحكم على فاطمة بالخدمة الباطنة ، خدمة البيت ، وحكم على علي بالخدمة الظاهرة ، ثم قال ابن حبيب : والخدمة الباطنة: العجين ، والطبخ ، والفرش ، وكنس البيت ، واستقاء الماء ، وعمل البيت كله

“Nabi Shalallohu alaihi wa Sallam memutuskan antara Ali bin Abi Thalib radhiyallohu anhu dan isterinya Fathimah radhiyallohu anha ketika keduanya mengeluhkan kepada Nabi soal pembantu, agar Fathimah mengurusi khidmah bathinah, yakni urusan rumah tangga, sedangkan untuk Ali urusan dhahir (di luar rumah)”. kemudian Ibnu Habib menjelaskan ; “Khidmah bathinah adalah semisal membuat adonan roti, memasak, urusan tempat tidur, membersihkan rumah dari debu, mengambil air, dan seluruh pekerjaan rumah”.

Ini juga yang menjadi pendapat Abu Ali Al Jauzajani, ulama khurosan yang hidup pada abad ke empat (4) hijriyah. Beliau mengomentari hadits Aisyah yang di riwayatkan oleh Ibnu Majah ;

فهذه طاعته فيما لا منفعة فيه فكيف بمؤنة معاشه

“Ini dalam ketaatan yang tidak ada padanya manfaat (seorang isteri wajib taat pada suaminya), maka bagaimana dengan kebutuhan makan suami,.? (tentu lebih utama untuk di taati)”

Adapun pendapat yang ke tiga bahwa wanita wajib mengurusi dan membantu suaminya pada kebutuhan-kebutuhan rumahnya sebagaimana kebiasaan masyarakat setempat, ini merupakan penggabungan dari  dalil dalil yang di pakai oleh pendapat kedua diatas, yang menunjukkan wajibnya seorang wanita melayani kebutuhan dhahir suami di rumahnya, dengan firman Alloh Ta’ala yang menunjukkan bahwa kewajiban itu di kaitkan dengan ‘urf (kebiasaan masyarakat setempat), sebagaimana firman Alloh ;

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“dan bagi mereka para isteri (memiliki hak yang harus di tunaikan suami) sebagaimana kewajiban atas mereka para isteri (kepada suami mereka), dengan cara yang ma’ruf.” (QS Al Baqarah 228)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan sebagaimana di nukil dalam Al Ikhtiyarot halaman 352 ;

“وتجب خدمة زوجها بالمعروف من مثلها لمثله ، ويتنوع ذلك بتنوع الأحوال ، فخدمة البدوية ليست كخدمة القروية ، وخدمة القوية ليست كخدمة الضعيفة . “

“Wajib bagi seorang isteri melayani kebutuhan suaminya berdasarkan ‘urf (kebiasaan masyarakatnya) sebagaimana suami telah memenuhi kewajibannya kepadanya, dan kewajiban itu berbeda berdasarkan perbedaan kondisi masyarakatnya. Maka kewajiban melayani suami bagi seorang isteri yang tinggal di masyarakat pedesaan berbeda dengan kewajiban melayani suami bagi seorang isteri yang tinggal di daerah perkotaan. Kewajiban melayani suami bagi seorang isteri yang kuat berbeda dengan kewajiban melayani suami bagi seorang isteri yang lemah.”

Dan firman Alloh Ta’ala ;

الرجال قوامون على النساء

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,.” (QS An Nisaa 34)

Pendapat ini menyanggah pendapat dari jumhur ulama (mayoritas ulama) dari kalangan Syafi’iyah, Hanabilah dan sebagian Malikiyah yang menyatakan bahwa isteri tidak wajib melayani kebutuhan suami dirumah, dengan alasan bahwa akad nikah itu hanyalah berkonsekwensi pada kewajiban melayani kebutuhan batin, bukan membantu atau melayani kebutuhan dhahirnya. Mereka menyanggah dengan perkataanya ;

فإن المهر في مقابلة البضع ، وكل من الزوجين يقضي وطره من صاحبه ، فإنما أوجب الله سبحانه نفقتها وكسوتها ومسكنها في مقابلة استمتاعه بها وخدمتها ، وما جرت به عادة الأزواج

“Sesungguhnya mahar itu sudah sebagai ganti dari jima’, masing-masing dari pasangan suami isteri saling menunaikan hajatnya dengan pasanganya. Maka sesungguhnya Alloh mewajibkan agar suami memberi nafkah isteri, pakaian, tempat tinggal ini hanyalah sebagai sebagai ganti dari pelayanan isteri dalam masalah batinnya (syahwat), dan pelayanannya akan kebutuhan sehari-harinya, serta apa yang menjadi kewajiban isteri kepada suaminya berdasarkan kebiasaan masyarakatnya.”

Maka demikian pula sebaliknya, sebagai ganti atas nafkah dari suaminya, berupa pakaian, tempat tinggal dan lain-lain isteri berkewajiban melayani kebutuhan dhahir suami di rumahnya, seperti memasak untuk suami, mencucikan pakaiannya, serta semua kebutuhan suami berdasarkan kebiasaan yang berlaku di masyarakatnya.

Pentarjihan Dari Pendapat Yang Ada

Jika kita lihat pendapat-pendapat yang ada beserta dalil yang di gunakan, maka nampak bahwa pendapat yang terakhir inilah yang tepat. Inilah pendapat yang mengakomodir dalil-dalil yang ada baik dari Al Qur’an dan Sunnah, yakni bawa isteri wajib melayani kebutuhan suami berdasarkan kebiasaan yang berlaku di masyarakatnya. Pendapat ini pula-lah yang di kuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin tatkala mengomentari hadits no. 25 dari hadits-hadits pada kitab Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, karya Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau mengatakan ;

فإن قال قائل : و هل خدمة الزوجة زوجها أمر واجب عليها,.؟ فالجواب : أن الله تعالى حكم بهذا حكما عدلا فقال : “وعاشروا هن بالمعروف” فإذا كان المعروف عند الناس أن المرأة تخدم زوجها وجب عليها أن تقوم بخدمته, و إذا كان المعروف عند الناس أن الزوجة لا تخدم الزوج و أنها تستخدن الخادم لم يجب عليها أن تخدم الزوج, و إذا كان من المعروف أن تخدمه في شيء دون شيء فعلى حسب المعروف ما جرت العادة أن تخدمه فيه وجب عليها أن تخدمه. وما لم تجر العادة به لم يجب  عليها, كل هذا مأخوذ من كلمتين : “وعاشروا هن بالمعروف”

“Jika ada yang bertanya ; Apakah wajib bagi seorang isteri melayani suaminya (dalam perkara kebutuhannya sehari-hari),.? Maka jawabannya : Bahwa sesungguhnya Alloh telah menetapkan hal ini dengan adil, maka Alloh berfirman ;

“Dan pergaulilah mereka para isteri dengan cara yang ma’ruf (sesuai dengan ‘urf -kebiasaan masyarakat setempat-)” (QS An Nisaa 19)

Maka apabila yang ma’ruf (umum) di tengah-tengah masyarakat adalah seorang isteri melayani kebutuhan suaminya, maka wajib baginya untuk membantunya. Dan apabila yang ma’ruf (umum) bahwa seorang isteri tidak melayani kebutuhan suaminya maka tidak menjadi wajib atasnya, demikian pula jika yang umum di masyarakat adalah seorang isteri menggunakan pembantu, maka tidak menjadi wajib pula atasnya melayani kebutuhan suaminya. Jika diantara keumuman masyarakat adalah seorang isteri melayani suaminya dalam satu perkara, serta tidak dalam perkara yang lain maka kewajiban isteri adalah sebatas kebiasaan yang berlaku di masyarakatnya untuk melayani suaminya pada satu perkara itu saja (tanpa yang lain). Perkara-perkara yang tidak umum di masyarakat di kerjakan oleh seorang isteri maka tidak wajib atasnya. Semua ini tersirat dari dua kalimat, yaitu firman Alloh Ta’ala ;

“Dan pergaulilah mereka para isteri dengan cara yang ma’ruf (sesuai dengan ‘urf -kebiasaan masyarakat setempat-)” (QS An Nisaa 19)

[Fatkhu Dzil Jalali Wal Ikrom Bi Syarhi Bulughil Maram, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin 1/153, terbitan Maktabah Islamiyah Lin Nasyr Wat Tauzi’ – Mesir]

Maka sesungguhnya apa yang di jelaskan oleh Syaikh Utsaimin di atas juga bisa menjawab pertanyaan kedua, yaitu bolehkah seorang isteri meminta kepada suami untuk di carikan pembantu untuknya,.? Jawabnya ; Jika yang berlaku di masyarakat adalah seorang isteri di bantu oleh seorang pembantu dalam melayani kebutuhan suaminya, maka sah-sah saja dan boleh hukumnya ia meminta kepada suaminya untuk di carikan pembantu untuknya. Namun jika yang berlaku di masyarakat adalah seorang isteri melayani kebutuhan suami tanpa ada pembantu yang membantunya, maka sesungguhnya itu menjadi kewajibannya, dan tidak layak baginya meminta kepada suaminya agar di carikan pembantu untuknya. Wallohu a’lam,..

[Pada jawaban ini kami banyak mengambil faedah dari Fatwa Syaikh Shalih Munajjid, no. 119740, bisa di lihat disini. Juga penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Fatkhu Dzil Jalali Wal Ikrom Bi Syarhi Bulughil Maram pada hadits no. 25]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *