UNTUK SIAPA ZAKAT DAN FIDYAH,.?

PERTANYAAN

Ass. Ustad mhn pnjlsan kriteria org yg brhak mnerima zakat & fidyah. Krn skrg ini bnyk org yg secara ekonomi trlihat kekurangan tp apakah secara syar’i mrk trmsk dlm golongan org2 yg berhak mnerima zakat & fidyah tsb? & apakah ad rekomendasi lembaga yg bnr2 amanah utk mnyalurkan zakat & fidyah tsb krn dr info yg beredar biaya utk operasional lembaga spt itu justru lbh besar drpd zakat & fidyah yg mrk trima shg bnyk org yg lbh memilih mnyalurkan zakatny sndr smp mnyebabkan pnerimany brdesak2an & bahkan jatuh korban spt yg slm ini srg trjadi. Nuwun

JAWAB

Jika kita rinci maka sesungguhnya dalam satu pertanyaan ini terkandung banyak pertanyaan yang harus di uraikan satu persatu. Yaitu ; Apa kriteria orang yang menerima zakat,.? Apa kriteria orang yang menerima fidyah,.? Adakah lembaga yang di rekomendasikan untuk menyalurkannya,.?

Pertanyaan pertama ; Apa kriteria orang yang menerima zakat,.?

Jika yang di maksudkan disini adalah zakat mal, berupa emas, perak, pertanian, perdagangan dan lainnya maka hal ini di sebutkan oleh Alloh Ta’ala dalam firmanNya ;

إِنَّمَا الصَّدَقَـاتُ لِلْفُقَرَآءِ وَالْمَسَـاكِينِ وَالْعَـامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغَـارِمِينَ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk yang berada di jalan Allah dan untuk orang yang sedang di dalam perjalanan sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS At Taubah : 60)

Maka penyaluran zakat mal di peruntukan kepada delapan asnaf sebagaimana di sebutkan pada ayat diatas.

Dan jika yang di maksudkan di sini adalah zakat fitri maka peruntukannya di perselisihkan oleh para ulama kepada siapa saja. Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah di sebutkan ;

اختلف الفقهاء فيمن تصرف إليه زكاة الفطر على ثلاثة آراء: ذهب الجمهور إلى جواز قسمتها على الأصناف الثّمانية الّتي تصرف فيها زكاة المال، وذهب المالكيّة – وهي رواية عن أحمد واختارها ابن تيميّة – إلى تخصيص صرفها بالفقراء والمساكين، وذهب الشّافعيّة إلى وجوب قسمتها على الأصناف الثّمانية، أو من وُجد منهم

“Para ulama berselisih pendapat dalam masalah penyaluran zakat fitri, ada tiga pendapat dalam masalah ini, ; Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bolehnya menyalurkan zakat fitri kepada delapan asnaf sebagaimana penyaluran zakat mal. Para ulama mazhab Maliki –dan ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan inilah yang di pilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- berpendapat bahwa zakat fitri di khususkan penyalurannya kepada fakir dan miskin, adapun para ulama dari mazhab Syafi’i berpendapat bahwa penyaluran zakat fitri wajib di bagi kepada delapan asnaf, atau siapa saja yang ada diantara delapan asnaf tersebut.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, nukilan dari Fatawa Islamweb.net, no. 127941)

Akan tetapi pendapat yang benar dalam masalah ini adalah zakat fitri HANYA DI KHUSUSKAN KEPADA FAKIR DAN MISKIN SAJA. Ini sebagaimana sabda Nabi Shalallohu alaihi wa Sallam ;

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث، وطعمة للمساكين، فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات

“ Rasululloh Shalallohu alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri dalam rangka pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, juga dalam rangka memberi makan orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum pelaksanaan salat Ied maka itu merupakan zakat yang di terima, dan barang siapa yang menunaikannya setelah pelaksanaan salat Ied maka itu termasuk sedekah.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al Hakim –beliau menshahihkannya-)

Juga dalam riwayat lain di sebutkan ;

فرض رسول الله – صلى الله عليه وسلم – زكاة الفطر صاعاً من تمر ، أو صاعاً من شعير ، على العبد والحر ، والذكر والأنثى ، والصغير والكبير من المسلمين ، وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة

“Rasululloh Shalallohu alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri seukuran satu sho’ dari kurma kering, atau satu sho’ dari tepung kepada hamba yang merdeka, laki-laki dan perempuan, kecil dan dewasa dari kalangan kaum Muslimin, dan beliau memerintahkan agar di tunaikan sebelum manusia keluar untuk melaksanakan salat Ied`” (HR Muttafaqun Alaihi, dan ini lafadz Bukhari)

Ibnul Qayyim Al Jauziyah, murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan ;

وكان من هديه صلى الله عليه وسلم تخصيص المساكين بهذه الصدقة، ولم يكن يقسمها على الأصناف الثمانية قبضة قبضة ولا أمر بذلك، ولا فعله أحد من أصحابه ولا من بعدهم، بل أحد القولين عندنا -أي عند الحنابلة- إنه لا يجوز إخراجها إلا على المساكين خاصة، وهذا القول أرجح من القول بوجوب قسمتها على الأصناف الثمانية

“Diantara petunjuk Nabi Shalallohu alaihi wa Sallam adalah MENGKHUSUSKAN PERUNTUKAN ZAKAT FITRI UNTUK ORANG-ORANG MISKIN, dan beliau TIDAK PERNAH MEMBAGINYA UNTUK DELAPAN ASNAF serta beliau tidak memerintahkan yang seperti itu, tidak pula ada seorangpun dari kalangan sahabat beliau dan orang-orang setelahnya melakukannya. Bahkan salah satu dari dua perkataan dalam mazhab kami –yaitu mazhab Hanabilah- tidak boleh menyalurkan zakat fitri melainkan hanya kepada orang-orang miskin saja, dan inilah pendapat yang lebih raih dari pada pendapat yang menyatakan wajibnya menyalurkan zakat fitri kepada delapan asnaf.” (Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil Ibad, 2/22)

Inilah pendapat yang benar dalam masalah penyaluran zakat fitri, yaitu hanya boleh di salurkan kepada fakir dan miskin saja.

Pertanyaan kedua ; Apa kriteria orang yang menerima fidyah,.?

Ketentuan penerima fidyah sudah di sebutkan dalam firman Alloh Ta’ala surat Al Baqarah ayat 184, yaitu orang faqir dan miskin. Alloh berfirman ;

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan kewajiban orang-orang yang berat untuk menjalankan puasa maka membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin.” (QS Al Baqarah ; 184)

Siapa itu orang miskin,.? Syaikh DR. Fauzan mengatakan ; “Orang miskin ; mereka adalah orang-orang yang keadaanya lebih baik dari pada orang fakir, orang yang bisa mendapatkan sebagian besar dari kebutuhannya, atau hanya sekedar setengah dari kebutuhannya,.” (Al Mulakhos Al Fiqh 1/263)

Maka orang miskin adalah orang yang bisa mencukupi sebagian besar kebutuhannya atau hanya setengah dari kebutuhannya, artinya orang miskin itu adalah orang yang juga memiliki pendapatan, akan tetapi pendapatan yang di peroleh TIDAK MENCUKUPI kebutuhannya, ia hanya bisa memenuhi sebagian besar atau hanya setengahnya.

Pertanyaan ketiga ; Adakah lembaga yang di rekomendasikan untuk menyalurkannya,.?

Sesungguhnya banyak lembaga zakat di negeri ini, baik lembaga pemerintah maupun swasta. Dalam masalah “lebih amannya” maka tentunya lembaga pemerintahlah yang lebih aman, karena sebatas pengetahuan kami pegawai lembaga zakat yang resmi di miliki pemerintah gajinya berasal dari h pemerintah, dan bukan dari penerimaan zakat secara langsung. Meskipun sebenarnya kalaupun di ambilkan dari zakat maka itupun sah-sah saja karena mereka termasuk amil zakat.

Menyalurkan zakat secara langsung kepada penerima hal itupun di perbolehkan, bahkan lebih di anjurkan jika di perkirakan tidak ada mafsadat (kerusakan) yang akan terjadi, seperti adanya korban jiwa karena berdesak-desakan, atau yang lain. Jika keadaanya demikian maka tentunya menyalurkannya lewat lembaga-lembaga resmi pemerintah lebih di anjurkan dengan pertimbangan madharat yang di timbulkan jika kita membaginya sendiri secara langsung.

Wallohu alam

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *