TIGA (3) AYAT TERAKHIR SURAT AL FATIHAH (Bag. 2, Selesai)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

“Hanya kepadaMu lah kami menyembah, dan hanya kepadaMulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan dari orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka, dan bukanlah jalan orang-orang yang di marahi dan orang-orang yang sesat.” (QS : Al Fatihah : 5-7)

Bahasan ini merupakan lanjutan dari bahasan sebelumnya pada rubrik Tafsir Qur’an. Kemarin kita sampai pada penjelasan tentang  diantara faidah dari ayat ke empat (4) dari surat Al Fatihah. Telah kita sebutkan diantaranya ;

  1. Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Alloh Ta’ala saja, ini di tunjukkan dalam ayat di atas ketika ‘maf’ul-nya lebih di dahulukan dari pada ‘amil’, sebagaimana firmanNya {‘Iyyaa Ka na’budu’}.
  2. Mengikhlaskan isti’anah (minta pertolongan) hanya kepada Alloh Ta’ala saja. Ini juga di tunjukkan dalam ayat di atas ketika ‘maf’ul-nya lebih di dahulukan dari pada ‘amil’ sebagaimana firmanNya {‘Wa Iyyaa Ka nasta’iin’}

Jika ada pertanyaan ; Bagaimana kita mengikhlaskan isti’anah (meminta pertolongan) hanya kepada Alloh saja, sementara pada ayat lain Alloh juga berfirman,..? ;

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“’.tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS : Al Maidah : 2)

Jawabannya adalah karena isti’anah itu ada dua macam. Pertama isti’anah tafwiidh, yaitu isti’anah yang kita semata-mata hanya menyandarkan diri kita kepada Alloh dan berlepas diri dari orang-orang sekitar kita, bahkan berlepas diri dari kekuatan kita sendiri. Isti’anah semacam ini hanya khusus boleh di tujukan kepada Alloh saja, tidak boleh di tujukan untuk selain dari pada Alloh atau kepada makhluk.

Kedua isti’anah yang sifatnya musyaarokah yaitu isti’anah yang di sertai dengan peran serta makhluk. Dan isti’anah semacam ini yang di perbolehkan kita memintanya kepada manusia. Contohnya adalah kita meminta tolong orang lain untuk membawakan barang karena kita merasa keberatan, atau kita meminta tolong seseorang untuk mengambilkan sesuatu, maka ini sifatnya boleh. Namun isti’anah semacam ini hanya di perbolehkan sebatas pada apa yang di mampui oleh makhluk.

Firman Alloh Ta’ala, ; Tunjukilah kami ke jalan yang lurus,.”, kata-kata as shirat di sini bisa di baca dengan dua cara baca, pertama dengan sin [السراط] atau dengan shad [الصراط]. Yang di maksud dengan as shirat di sini adalah jalan, dan yang di maksud dengan hidayah (ihdinaa) adalah hidayatul irsyaad (hidayah bimbingan). Maka jadinya jika kita mengatakan “Ihdinaa as shiraatal mustaqiim” maknanya adalah kita meminta Alloh Ta’ala ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan ‘Mustaqiim’ yaitu yang tidak ada kebengkokan padanya.

Diantara faedah ayat yang ke lima (5) ini adalah ;

  1. Kembalinya manusia kepada Alloh Azza wa Jalla setelah meminta pertolongan kepadaNya dalam beribadah, agar Dia menunjuki kita ke jalan yang lurus. Dalam beribadah harus ada keikhlasan kepada Alloh, ini di tunjukkan pada firman Alloh ‘Iyyaa Ka Na’bud’ (hanya kepadaMu lah kami meminta menyembah). Diantara bentuk isti’anah adalah meminta kekuatan dalam hal ibadah, ini sebagaimana firman Alloh ‘Wa Iyya Ka Nasta’iin’ (Dan hanya kepadaMu lah kami meminta pertolongan). Demikian pula diantara bentuk isti’anah adalah agar supaya senantiasa mengikuti syariat, ini di tunjukkan pada firman Alloh ‘Ihdinaa as shiraatal mustaqiim’, (Tunjukilah kami ke jalan yang lurus), karena ‘as shiraat al mustaqiim’ adalah syariat yang Nabi -Shalalohu ‘alaihi wa Sallam- datang dengannya.
  2. Balaghah Al Qur’an (sastra), di mana huruf ‘jaar’ dalam kata ‘ihdinaa’ di buang. Faidahnya adalah untuk menggabungkan permohonan hidayah, hidayah ilmu dan hidayah taufik, di karenakan hidayah itu ada dua macam, yaitu hidayah ilmu dan bimbingan, dan hidayah taufik dan amal. Hidayah jenis pertama tidaklah ia kecuali semata-mata petunjuk. Dan Alloh Azza wa Jalla memberikan hidayah (petunjuk) semacam ini kepada seluruh manusia, sebagaimana firman Alloh Ta’ala ;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

“(Beberapa hari yang di tentukan itu adalah) Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya di turunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS Al Baqarah 185)

Jenis hidayah yang ke dua taufik di dalamnya adalah untuk petunjuk dan mengikuti syariah sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala ;

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya dan merupakan petunjuk bagi orang yang bertakwa.” (QS Al Baqarah 2)

Hidayah semacam ini sering tidak di dapat oleh sebagian orang, sebagaimana dalam firman Alloh ;

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى

“Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) dari pada petunjuk,.” (QS Fushilat 17)

‘Telah Kami beri petunjuk’ artinya telah Kami jelaskan kebenaran kepada mereka dan Kami tunjukkan kepada mereka tetapi mereka tidak mendapatkan taufik.

  1. ‘As Shiraat’ (jalan) itu terbagi menjadi dua (2) macam, lurus dan bengkok. Jika sesuai dengan kebenaran maka itu adalah jalan yang lurus, sebagaimana dalam firman Alloh ;

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalam (syaithan), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.” (QS Al An’aam 153)

Dan jika jalan itu menyelisihi kebenaran maka ia termasuk jalan bengkok.

Firman Alloh Ta’ala ; [“(Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang di murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”]. Khusus pada firman Alloh “(Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,.” Merupakan Athaf Bayan (penjelas) dari firman Alloh ‘Jalan yang lurus’.

Yang di maksud orang-orang yang Alloh beri nikmat atas mereka adalah sebagaimana yang di sebutkan dalam firman Alloh Ta’ala dalam ayat berikut ;

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rasul maka mereka akan bersama dengan orang-orang yang telah Alloh beri nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, para shidiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS An Nisaa 69)

Sedangkan yang di maksud dalam firman Alloh [dan bukanlah jalan orang-orang yang di marahi’], mereka adalah orang-orang Yahudi dan setiap orang yang mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengerjakannya.

Dan firman Alloh Ta’ala [‘dan orang-orang yang sesat’], yang di maksud di sini adalah orang-orang Nasrani sebelum di utusnya Nabi -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam-, adapun orang Nasrani setelah di utusnya Nabi -Shalallohu ‘alaihi wa Sallam- maka mereka di golongkan sama dengan orang-orang Yahudi, karena kebenaran sudah sampai kepada mereka, dan mereka mengetahuinya. Termasuk juga dalam ayat ini adalah setiap orang yang beramal ibadah namun keliru karena memang tanpa di landasi ilmu dan karena kebodohan mereka akan syariat.

Diantara faidah ayat ke enam (6) dari surat Al Fatihah ini adalah ;

  1. Penyandaran nikmat hanya kepada Alloh semata dalam memberikan petunjuk kepada orang-orang yang telah di berikan nikmat atas mereka, karena hal itu merupakan keutamaan yang murni dari Alloh semata.
  2. Pembagian manusia menjadi tiga golongan, pertama golongan yang Alloh beri nikmat atas mereka. Kedua golongan orang yang di murkai, dan ketiga, golongan orang yang sesat.
  3. Sebab keluarnya seseorang dari jalan yang lurus bisa terjadi karena kebodohan, seperti orang-orang Nasrani. Bisa juga karena keras kepala, sebagaimana orang Yahudi.

[Maraji’ ; Tafsir Juz Amma karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsamin hal 13-19, terbitan Darul Kutub Al Ilmiyah]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *