BERDO’ALAH KEPADA ALLOH UNTUK KETAKWAANMU,.!

Dari Ibnu Mas’ud t bahwasannya Nabi ­r beliau berdo’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْئَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Allohumma inni as’aluka al-huda wa at-tuqo wal ‘afaafa wal ghina.”

(Ya Alloh, aku mohon kepada-Mu ilmu, ketakwaan, penjauhan dari hal-hal Syubhat serta kecukupan). (HR. Muslim)

Terkadang kita sebagai umat Islam yang sudah menjalankan syari’at Alloh I sering melupakan do’a ini. Padahal Nabi r yang merupakan manusia yang paling bertakwa di muka bumi ini masih berdo’a kepada Alloh I agar di berikan ketakwaan dalam jiwanya. Meskipun beliau adalah seorang Nabi yang merupakan utusan Alloh dan kekasih Alloh namun beliau senantiasa masih merasa perlu untuk berdo’a kepada Alloh I agar diberikan ketakwaan. Maka seyogyannya kita sebagai umatNya, yang sudah tentu memiliki tingkat ketakwaan yang sangat jauh berbeda dari Nabi r meneladani perilaku beliau dengan melafadzkan do’a ini memohon agar Alloh I memberikan kita ketakwaan.


Hadits ini di muat oleh Imam Nawawi di kitab Riyadhus Sholihin bab Takwa hadits no. 71. Kitab Riyadhus Sholihin merupakan sebuah kitab yang banyak di syarah oleh para ulama karena keutamaannya. Diantaranya adalah beliau Syaikh al-‘Utsaimin yang mensyarah kitab ini, dan beliau beri nama Syarhu Riyadhi as-Sholihin min Kalami Sayyidil Mursalin.

Maka pada pembahasan kali ini akan kami paparkan penjelasan dari Syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab beliau Syarhu Riyadhi as-Sholihin min Kalami Sayyidil Mursalin kaitannya dengan hadits ini.

Syarah

Beliau Nabi r berdoa kepada Alloh I dengan do’a ini ; “Allohumma inni as’aluka al-huda wa at-tuqo wal ‘afaafa wal ghina.”. al-Huda disini maknanya adalah al-‘Ilmu (ilmu), dan Nabi r juga merupakan orang yang butuh akan ilmu sebagaimana manusia yang lain, karena Alloh I berfirman :

Maka Maha Tinggi Alloh Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Surat Thaha : 114)

dan Alloh I juga berfirman :

“,.dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Alloh sangat besar atasmu.(Surat an-Nisaa : 113)

Berdasarkan hal ini beliau r juga merupakan orang yang butuh akan ilmu maka dari itu beliau memohon kepada Alloh I agar di berikan al-Huda (Ilmu).

Al-Huda apabila disebutkan sendiri maka mencakup “ilmu” dan “petunjuk kepada kebenaran”, dan apabila disebutkan bersamaan dengan kata yang menunjukkan kepada “petunjuk pada kebenaran” maka di tafsirkan dengan makna “ilmu”. Ini karena di dalam bahasa Arab ‘athaf berkonsekwensi pada perubahan. Maka al-Huda maknanya tersendiri dan kata setelahnya yang menunjukkan makna “petunjuk” juga memiliki makna tersendiri.

Adapun sabda beliau “wa at-Tuqa”, yang di maksud adalah “Takwa”, adalah ketakwaan terhadap Alloh I. Beliau r memohon kepada Robb-nya at-Tuqa”, yaitu agar Alloh memberikannya petunjuk kepada ketakwaan terhadap Alloh I, ini dikarenakan berada di tangan Alloh-lah segala macam urusan. Maka apabila seorang hamba itu diserahi urusannya sendiri, mengkhawatirkan dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Akan tetapi apabila Alloh I memberinya “Taufiq” dan at-Tuqa” (ketakwaan) maka seorang hamba tersebut menjadi lurus diatas ketakwaan terhadap Alloh I.

Kata “al-‘Afaaf” yang di maksud di sini agar Alloh I mengkaruniakan kepadanya “al-‘Afaaf” wa “’al-Iffah” yaitu dijauhkan dari segala apa-apa yang di haramkan oleh Alloh kepadanya.

Sedangkan kata “al-Ghina” yang di maksud di sini adalah kecukupan (tidak membutuhkan) dari selain Alloh I, yaitu kecukupan dari makhluk, yang mana sebenarnya seseorang itu tidaklah membutuhkan orang lain kecuali Robb-nya I.

Seorang manusia itu apabila Alloh I telah memberikan kepadanya taufiq dan mengkaruniakan kepadanya dengan kecukupan dari makhluk maka jiwa orang tersebut akan mulia dan terhindar dari kehinaan. Dikarenakan kebutuhan kepada makhluk itu merupakan kehinaan sedangkan kebutuhan kepada Alloh itu merupakan kemuliaan dan ibadah.maka dari itu Nabi r memohon kepada Alloh I “al-Ghina”.

Seyogyanya bagi kita untuk mencontoh Rosul r dengan berdo’a sebagaimana beliau berdo’a dengan do’a ini, yaitu dengan memohon ilmu, ketakwaan, penjauhan dari hal-hal yang di haramkan Alloh I atas kita serta kecukupan dari makhluk.

Hadits ini merupakan dalil bahwa Nabi r tidak dapat memberikan manfaat atau madhorot, ini terbukti bahwa beliau sendiri-pun memintanya kepada Alloh I. Sedangkan satu-satunya yang dapat memberikan manfaat atau madhorot adalah Alloh I.

Pada hadits ini juga merupakan dalil batil-nya perbuatan orang-orang yang menggantungkan diri mereka kepada para wali dan orang-orang sholeh dalam mencari manfaat dan menolak madhorot, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang tidak faham akan syariat yang mereka berdo’a kepada Nabi r ketika berada di kuburan beliau, atau mereka berdo’a kepada orang yang mereka anggap sebagai wali Alloh. maka sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang sesat dalam agama mereka, bodoh akal mereka, dikarenakan orang-orang yang mereka berdo’a kepadanya itu tidak memiliki sesuatu apapun dalam diri mereka, tidak bisa memberikan madhorot ataupun manfaat. Alloh I berfirman kepada NabiNya :

Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Alloh ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”. (Surat al-An’am : 50)

Alloh I juga berfirman :

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Alloh. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Surat al-A’rof : 188)

Dalam ayat lain Alloh I juga berfirman :

Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan. Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Alloh dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.(Surat al-Jin : 21-22)

Maka sesunguhnya apa yang kita dengar dari sebagian kaum muslimin yang mereka tidak faham akan syariat Islam mereka mendatangi kuburan orang-orang yang mereka anggap sebagai wali Alloh kemudian mereka berdo’a kepadanya, maka itu merupakan perbuatan sesat dalam agama. Padahal orang-orang yang mereka mereka anggap sebagai Waliyulloh itu tidaklah dapat memberikan manfaat dan madhorot selama-lamanya. 

Wallohu A’lam (AR)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *